Showing posts with label emotions. Show all posts
Showing posts with label emotions. Show all posts

January 28, 2011

Sebal

Gue pengen nulis. Udah lama banget pengen nulis something, yang idenya dari tak ada menjadi ada, dari ada menjadi tiada lagi. Tapi apa daya, jadwal sialan ini mulai nyekek gue. Mungkin ini baru masa penyesuaian, yang jelas sih waktu gue abis aja gitu, penuh dengan kegiatan kecil-besar-penting-tak penting lainnya.

Jadi kalau dirinci, kegiatan gue, selama minggu ini khususnya, terdiri dari kegiatan:
Senen - minjem buku di perpus, kelas seharian, nyiapin materi rebo, ngelayat.
Selasa – ngerjain itungan ekmen sampe gila dan stuck di nomer 18.
Rebo – kelas, sidang full day, dan masih lanjut ngerjain ekmen, kali ini dengan sedikit pencerahan bahwa cara gue ternyata gak salah. Ternyata gue gak bego, seperti yang selalu ditekanin ama seseorang.
Kamis – berusaha ngerjain tugas 10 thou bc (dan Alexander sih, tp br 45 menit gue udh nyerah nontonnya) dan syukurlah, akhirnya kelar si 10 thou bc (biar Alexander dikasi ke orang lain aja hahaaa).
Jumat – clueless soal homework spbu. Siapa nih yg bakal ngerjain??
Dan voila, udh mau senen lagi aja gituuuu…

Super dang!
Jadi intinya sekarang ini emosi gue cuman ada diujung kuku aja. Grrrr you better not disturbing me with anything unimportant.

December 14, 2010

Senin Gila!

Kombinasi peruntungan buruk dan suasana hati buruk. Hasilnya adalah senin menyebalkan.

Pertama, kurang tidur gara-gara adik gue baca komik ampe malem. Di benak gue udah pengen gak masuk aja gara-gara pusing. Tapi ujian, mau gak mau masuk deh.

Kedua, urusan ban mobil kurang angin. Akibatnya telat masuk kerja.

Ketiga, urusan pintu mobil error. Akibatnya, perasaan sedikit kesal.

Keempat, cramps. Akibatnya super sensitive dan moody.

Kelima, titipan kiriman buku Etta. Akibatnya perasaan malas dan sedikit kesal.

Keenam, sidang seharian. Akibatnya, telat makan siang bikin capek dan emosi.

Ketujuh, angka puncak, urusan motor tolol. Akibatnya, tabrakan pertama kalinya.

Di tempat asing. Pas gue lagi nyari rumah tempat gue harus nganter barang Etta. Untungnya itu di lippo juga, security nya masih hormat. Sialnya, orangnya dodol dan ngotot, seperti pengemudi motor umumnya. Ceritanya, gue lagi jalan pelan (gak lebih dr 20 km/j) di daerah Ubud yang asing buat gue. Jalannya kecil, cuman pas buat 2 mobil dan 2 arah. Di kiri ada jalan kecil pertigaan menuju kampung. Gue mau lurus. Ada pak ogah yang nyuruh terus. Maka teruslah gue.

Eh si motor pinter itu ternyata mau belok ke kiri dengan cara nyalip kanan gue. Pas gue sadar, si bapak pinter itu udah jatoh dibawah sambil megangin motornya yg mau niban dia. Untung gue pelan, kalo cepet sih udah jadi dendeng si bapak. Dan urusannya bakal lebih panjang.

Resenya, si bapak galak coba. Tau-tau ngancem gue dengan kata kalo dia betawi dan tinggal disini. Niat baik gue yang tadinya mau nanyain kaki dia yang kayaknya agak keceklek langsung surut (walau gue tetep nanya sih akhirnya). Mentang-mentang gue cewek kali dia berani begitu. Hypocrite.

Orang dia yang salah. Even pak ogah yg ada disana ikut marahin dia, kenapa mau belok kiri lewat kanan orang, salah sendiri. Eh alibinya dia katanya gue gak pasang sen kanan. Hellow, itu jalan utama dan lurus. Saking keselnya guie sampe gak mau nanggepin percakapan tolol itu. Bayangin aja, pak ogah yang baisanya always belain pengendara motor aja belain gue, nunjukin betapa salahnya si motor itu.

Walau akhirnya damai juga (berkat duit cepekceng gue yang melayang, bahkan ketika dia yang salah), gue tetep kesel. Kesel dengan aturan jalanan yang bikin motor berkuasa diatas segalanya. Kesel karena gimanapun, mobillah yang salah. Kesel karena ini pertama kalinya gue kena beginian. Kesel karena harus bayar. Kesel karena takut dimarahin bokap. Kesel karena mobil gue juga kena libas.

Motor konyol. Moga-moga duit cepekceng itu worth it buat lo deh. Secara tu duit gue kasih dengan tidak sukarela.

Yasudahlah. Tarik nafas, hembuskan.

October 13, 2010

Anda sombong!

Kata-kata anda selalu sombong! Membuat orang yang mendengarnya menjadi iri bahwa ternyata ada hidup yang begitu berkecukupan tanpa pernah kurang satu apapun juga. Bukan karena materinya saja tetapi dari semua aspek kehidupan. Kata-kata anda selalu besar! Sangat panjang dan rumit dan terlihat hebat kalau didengarkan. Hanya untuk didengarkan saja karena kata-kata tidak bisa dilihat dan dipegang dan dirasa.

Tentu anda lebih hebat dari saya, toh saya bukan siapa-siapa. Saya masih awam, masih muda. Saya tidak memiliki otak super brilian layaknya anda. Saya tidak pernah menolong orang kesusahan seperti anda. Saya tidak pernah hidup dalam kondisi ideal dimana saya bebas menjadi diri sendiri tanpa harus memikirkan kesusahan hari esok. Ya, anda lebih beruntung dari saya, tentu anda sadar. Dan anda lebih pintar. Dan anda telah melakukan lebih banyak dari saya.

Tetapi anda tidak sempurna. Semakin banyak kelebihan dan kehebatan anda, semakin tidak sempurna jugalah anda. Karena anda sadar dengan kelebihan anda, dan anda bangga dengan kelebihan anda. Dan kesadaran serta kebanggaan itu jauh sekali dari kesempurnaan. Apalagi anda tidak bisa berkompromi dalam hidup. Anda bahkan selalu mencari kesempurnaan fisikal, padahal fisik itu fana. Anda mau hidup dalam kesempurnaan. Padahal justru dari ketidaksempurnaan maka kita bisa menghargai apa yang lebih.

Memang anda lebih dari saya, dan mungkin saya iri dengan hidup anda yang serba mudah hingga anda bisa menjadi sombong dan bangga seperti ini. Tetapi sadarkah anda bahwa semakin banyak kata maka semakin banyak diperlukan pembuktian. Dan bahwa selama ini anda bertahan karena bantuan dari para manusia tidak sempurna. Saya rasa anda mungkin lupa.

Tapi tidak apa-apa juga, karena ini bukan kritik. Siapa saya sampai bisa mengkritik anda si maha hebat. Saya belum tentu bisa melakukan hal sehebat anda, maka saya tidak punya hak untuk mengkritik bukan?

Saya hanya terpesona oleh kehidupan anda dan kesombongan didalamnya. Ya, saya terpesona bahwa ternyata anda sombong.

August 31, 2010

Buat apa berjuang?

Oke, ini bukan masalah mau atau bisa. Ini masalah apa tujuannya. Buat gue, yang cuma seorang manusia biasa, berjuang itu gak pernah setengah-setangah, sekali setuju maka mari berjalan sampai akhir. Tapi lihat juga apa yang gue perjuangin. Tetep harus ada satu titik pencapaian di depan sana yang bisa jadi motivasi gue atau semacam penyemangat bahwa sesuatu yang gue lakuin gak sia-sia.

Ketika ada yang mengajak gue melakukan sesuatu bersama, dan dalam makna bersama itu harusnya adalah sebuah tim utuh, dan ketika gue mengiyakan, maka itu adalah komitmen. Gak ada kata iya yang gue ucapin dengan terpaksa. Itu masalah prinsip kalo buat gue. dan ketika gue udah iya, maka wajar kalau gue melakukan segala cara untuk menuju ke titik pencapaian itu.

Dengan catatan kalau orang yang mengajak tetap konsisten menemani proses ini dari awal sampai akhir. Yang sebenernya seharusnya adalah demikian adanya, karena kalau si pengajak lalu melepas tangannya dan menyuruh gue untuk berjuang sendiri maka pertanyaannya adalah buat apa.

Kalau pertanyaan itu sudah muncul di benak gue, maka semangat dan minat gue biasanya langsung turun seketika. You ask for a yes but you let me fight our battle alone and yet you dare to say the word ‘together.’ Do you know the real meaning of together?

Jadi, pada intinya, gue capek. Capek berjuang buat sesuatu yang jangan-jangan gak ada hasilnya buat gue. Gila aja, ini gue nyeburin diri gue sepenuhnya kali, terus apa yang lo tawarin buat gue? Manusia juga perlu bahan bakar buat berjuang kali. Dan bahan bakar itu jelas gak akan bisa lo beli dari toko manapun.

Yang gue butuh adalah esensi. Suatu pertunjukan tunggal dari lo. Semacam ‘signage’ bahwa ini gue jalan di jalan yang bener, bahwa utopia tujuan kita dari awal sampai sekarang itu menuju ke arah yang benar dan bahwa lo juga menuju kesana bareng gue.

Yang gue perlu itu semacam pembuktian mungkin, bahwa lo sebenernya masih jalan disebelah gue, jadi gue gak akan merasa sendirian. Itu yang gue perlu.

Karena jujur, sekarang gue ngerasa tersesat. Dan gue merasa sendirian. Dan gue benci keadaan kayak gini.

So please help me, will you?

August 20, 2010

Stupid Expectation

You know, the biggest human problem in the pursuit of happiness is expectation. Sometimes you just expect too much that you forget to stop awhile and be grateful for all you’ve got. I didn’t say that expectation is wrong. We definitely need expectation to plan our move before doing anything later. But same as every other problem in the world, too little is never good enough and too much is never good either. It’s all the same, same theory, just like gravitation. The higher you fly, the more hurt you’ll get when you down. Same as expectation, the higher you want it, the bigger disappointment you’ll get later. And lack of expectation won’t get you anywhere.

But as a human, our curiosities always lead us to the other side. You feel cold and you want something hot. You are ugly and you want to be pretty. You’re white skin and yet you tanned yourself. You’re not in love and you curious about being in love. Never enough, as always, human are greedy species. You get one side and you want the other side. But nothing works that way, no perfection in this world and you can’t have the both side.

And here I am, definitely the sample of human being, full of false assumption and wrong expectation. I’m the exact example of pathetic romantic kind. Means that I always expect something to be as much as I feel. I ask for something more, and I forget to say enough. I wish for undivided-attention, a dance in the moonlight night, a surprise visit in the middle of the week, a single stem of white lily without occasion, sweet words, simple sacrifice in the name of love, those kind of romantic notion that tell that I’m loved. Yeah, I know, I realize that it’s silly because you couldn’t count love from those act. And yeah I know I ask too much.

Yeah, my bad, I though I can control it, but I can’t. When I love, I expect to be love in return. When I am excited about something, I expect the other to be excited too. Being in the same boat with me, I mean as my partner, maybe need some extraordinary energy to cope with my speed. I know it’s wrong for me to expect anybody to think as I think, but I can’t help it.

And after reality tells me to stop doing that, in some ironic way of it, finally I can stop awhile and reflect to myself. What have you done in the name of love? You haven’t done it yet you expect it. Egoist, such an egoistic person.

So, some suggestion for myself, to prevent another stupidity, just do more and expect less. You make other miserable when you forget that because you won’t find happiness if your eyes refuse to see it as a happiness. Just please stop those stupid expectation and try to live properly.

After all, happiness is handmade, with a help from God.

Just gonna stand there and watch me burn
but that's alright because I like the way it hurts
Just gonna stand there and hear me cry
but that's alright because I love the way you lie
(Eminen feat Rihanna – Love The Way You Lie)

July 29, 2010

Teman?

Mereka bilang bahwa teman yang sebenarnya bisa dilihat dari perilaku mereka dikala kita jatuh atau sedih, bukan dikala senang. Katanya sahabat sejati adalah yang berada disisi kita ketika sakit dan susah. Jatuh, sakit, dan susah adalah pembuktian seorang teman sejati.

Di satu sisi, perkataan tersebut benar. Karena banyak orang mengaku teman yang hanya ada ketika kita sedang bahagia atau lebih kasar lagi, ketika kita kaya. Dan dengan kata kaya, yang saya maksud adalah kaya dalam paradigma duniawi atau mudahnya, secara materi. Memang benar mereka adalah teman, tetapi kalau kita sedikit saja menunjukkan tanda-tanda jatuh, yang dalam bahasa duniawi adalah bangkrut, mereka yang mengaku teman itu menghilang. Mendadak kita dijauhi seperti menderita penyakit mematikan saja. Dan itulah alasan kenapa ketika kita sudah bisa membuktikan bahwa teman kita bisa berada disisi kita ketika kita jatuh, maka itulah teman sejati.

Tapi tunggu dulu, sepertinya belum tentu demikian. Ternyata teman yang sebenarnya juga harus diuji, apakah mereka akan ada disisi kita ketika kita bahagia atau tidak. Karena ternyata beberapa teman yang selalu ada ketika sedih, ternyata, belum tentu mau berada disisi kita ketika kita senang. Aneh sekali, padahal sedih kan perkara menyebalkan dan senang adalah perkara menyenangkan. Kalau seperti ini tentu terbalik paradigma pikirannya jadinya.

Walaupun demikian, memang ada yang seperti itu. Banyak orang datang dengan mengaku teman baik dan minta diaku sebagai teman baik karena sudah menemani dalam keadaan sedih dan susah. Terlihat seperti seorang sahabat yang luar biasa yang menghibur, mendengarkan ketika cerita, membantu, dan sebagainya.

Lalu ketika suatu hari kita bangkit dan kembali berbahagia, lalu kita menyadari bahwa beberapa teman kita ketika kita sedih dan jatuh itu tidak ada disebelah kita. Ternyata fakta anehnya adalah teman yang berada disisi kita ketika sedih itu mendadak menghilang ketika kita bahagia.

Hanya ada tiga kemungkinan kalau begitu. Entah saya ini pribadi yang menyebalkan sekali, yang bukan teman yang baik ketika saya bahagia. Atau entah teman itu lebih suka ketika saya sedih dan perlu dihibur daripada ketika saya bahagia. Atau teman saya itu punya tujuan lain dengan menjadi teman ketika saya sedih dan jatuh. Tetapi saya jahat sekali kalau berpikir bahwa teman saya bisa berpikir seperti itu. Jadi mungkin berarti saya ini bukan teman yang baik jika saya berada dalam kondisi bahagia.

Bahwa saya bukanlah seorang teman yang baik adalah realita yang menyebalkan untuk diketahui. Dan hal lain untuk diubah dari diri sendiri.

May 24, 2010

bye bye friendly, welcome vicious

Mengobrol dengan berbagai macam orang memang menyenangkan, akan tetapi energi yang mereka lontarkan dalam percakapan juga ikut menular ke diri. Ketika obrolannya ringan dan menyenangkan, maka feelingnya ikut ringan dan menyenangkan. Jika obrolannya berat dan menguras emosi, maka feelingnya ikut berat dan sarat emosi. Belum lagi jenis orang yang menjadi lawan bicara. Kalau orangnya emang cocok ngobrolnya, ikut senang berbicara dengan orang itu. Tapi kalau orangnya menyebalkan, rasanya males deh. Yang menyebalkan itu kalau mood gue sedang swing ke arah antisocial, rasanya malas bicara, malas basa-basi, malas beramah-tamah, tapi kalau dicuekin nanti gue dibilang sombong, marah, dingin, apapun. Padahal simple aja, emang gue lagi males ngomong. Kan ada tahap manusia malas bicara kan? Kalau posisinya dibalik, lo yang males bicara dan gue ngajak ngomong obrolan yang menurut lo menyebalkan juga pasti lo akan gak suka kan.

Tapi itulah susahnya, apalagi kalau memakai perangkat social, si blackberry mungil yang memungkinkan segala percakapan social-networking dari manapun dimanapun kita berada. Entah kenapa belakangan orang jarang sekali mempedulikan tanda ‘busy’ di status messenger jika mereka mengetahui bahwa kita memakai perangkat blackberry itu. Emang lebih baik di-offline saja sekalian kalau mau tidak terganggu sama sekali. Tapi tetap saja hal itu gak berlaku di bbm, yang gak bisa di-offline kecuali kehabisan pulsa. Belum lagi kebiasaan beberapa orang menge-buzz atau menge-ping kalau message-nya belum dibalas padahal gak penting sama sekali. Bahkan mode silent saja menyerah karena si-buzz dan si-ping pasti membuat hp bergetar. Kenapa gak tunggu dibales aja sih, siapa tau si pemilik sedang sibuk apa gitu.

Tapi yang paling menyebalkan gak lain dan gak bukan adalah pria-pria iseng pencari mangsa, entah tujuannya serius (walau diragukan sekali keseriusan tersebut), hanya murni iseng saja, atau memang hanya mau berteman. Mungkin itu alas an banyak orang memasang status palsu sepertinya, karena entah kenapa kata single selalu saja mengundang kerumunan yang mengganggu. Dan mengganggu itu dalam arti sudah mengganggu batas personal kehidupan seseorang sih. Bagus kalau yang iseng hanya satu atau dua. Tapi kalau jumlah yang isengnya sudah lebih dari batas yang bisa di-handle, maka rasanya mau berteriak marah. Kenapa orang suka menebar pesona dimana-mana sih? Rasanya seperti dianggap mainan penghilang kebosanan oleh kalian yang iseng-iseng itu deh. Kesal rasanya.

Semua berkat social networking. Padahal sudah dibatasi dengan menolak semua orang asing tak dikenal disana, akan tetapi ternyata masih ada saja orang-orang iseng yang lolos masuk. Padahal sudah menghapus orang-orang yang mengganggu, tapi kadang masih muncul yang lain lagi. Padahal sudah memilih orang yang sekiranya memang dikenal tapi ternyata bahkan orang yang dikenalpun tetap termasuk golongan iseng. Maaf kalau kesannya sombong, akan tetapi se-sosial-sosialnya gue, gue tetap butuh jarak pribadi, dan gangguan dari si iseng-iseng ini benar-benar sudah sangat menguji kesabaran gue. Maka kalau seperti itu peduli amat dibilang sombong deh, I don’t care, gue butuh my private space dan kalau tindakan drastis seperti bersikap jutek bisa membantu, maka gue bakal ngelakuin itu juga akirnya. When drastic measure is needed, bye bye friendly, welcome vicious, because i need my private space back sometimes.

May 17, 2010

kepala yang penuh

Ribuan pemikiran dan ide berkecamuk di kepala seperti badai yang saling bertabrakan dan bersinggungan bahkan berbaur menjadi satu. Rasanya penuh sekali, seperti adonan kue berkonsentrat tinggi yang dicampur dalam mixer otak ini. Seperti ada ribuan vanya yang berbicara bersamaan meneriakkan ribuan topik yang berbeda-beda. Sungguh pusing sekali ketika ada begitu banyak hal yang berkecamuk di kepala ini, terus berdengung berteriak berceloteh dengan nada yang berbeda emosi.

Lucu sekali kenapa selama ini bisa mencap diri sendiri sebagai seorang introvert jika ternyata pikiran ini menyimpan jutaan pemikiran dan ide setiap hari yang paling tidak sepertiganya harus dikeluarkan ke orang lain yang mau mendengarkan demi kepuasan batin semata. Lucu sekali kenapa bisa merasa diri anti-sosial jika sekarang setiap hari paling tidak harus berbagi tegur dan sapa dengan teman yang tersebar dimanapun, puji Tuhan terhadap teknologi social networking yang sangat memudahkan manusia untuk berkomunikasi walau terkadang berbicara dalam dunia itu terasa tidak nyata saja karena kita tidak bisa membaca ekspresi wajah mereka.

Ternyata saya ini cuma wanita biasa, yang mau didengarkan, yang mengeluarkan kata-kata sekitar tiga kali lipat pria normal, mungkin lebih ketika penyakit bawel sedang menyerang raga ini. Ternyata saya ini cuma wanita biasa yang senang berbicara, membagi pemikiran, kesenangan, kesedihan. Berbicara itu menyenangkan bahkan ketika topiknya hanyalah sebuah cerita konyol saja atau bahkan ketika ceritanya merupakan cerita nestapa sekalipun. Sungguh berbicara itu menyenangkan, bahkan ketika kita sadar bahwa pasangan bicara kita sudah muak mendengarkan celotehan tak jelas. Egois memang, manusia sepertinya terlalu egois memaksa ambang kesabaran orang lain untuk mendengarkan tumpahan emosi yang bahkan terkadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan lawan bicara kita. Kejam dan tega sekali tetapi itulah manusia, selalu ingin didengarkan, terkadang tidak mau mendengarkan.

Dengan berbicara kita berbagi hidup dengan orang lain, walau apa yang dikatakan pepatah bahwa lidah tak bertulang sehingga kata-kata bisa jadi hanyalah kekosongan belaka. Tetap saja, walau yang dibagi itu adalah kebohongan tetapi tetap saja itu adalah hidup, karena hidup dalam kebohongan pun juga bisa dikatakan hidup walau pondasinya adalah pasir yang bisa runtuh kapanpun. Berbagi isi hati adalah hidup karena itu adalah proses pemahaman, pembagian zat pikiran yang tak berwujud kepada orang lain, semacam proses yang harus dilalui manusia untuk mendekatkan kepada orang lain. Berbagi hidup bukan hanya dalam proses bernafas atau proses perkembangbiakan saja. Pertukaran pikiran sama pentingnya dalam kehidupan yang singkat ini.

Dan sungguh, saat ini di kepala ini berkecamuk ribuan topik yang entah harus dituangkan kemana dan dalam wujud apa, ingin rasanya berteriak mengoceh tak jelas atau punya puluhan tangan untuk menuangkan ide tersebut dalam wujud karya apapun. Menyebalkan sekali ketika suatu keinginan dihadapkan pada benturan keterbatasan. Seperti hidup yang hanya setengah saja nikmatnya. Seperti melakukan pertunjukan tanpa satu penontonpun. Rasanya tidak menyenangkan memiliki ribuan pemikiran dalam kepala jika tidak bisa disalurkan kemana-mana.

May 4, 2010

Marah

Marah itu sebentuk emosi. Kalau digambarkan, warnanya pastilah merah menyala. Marah itu panas. Merusak diri sendiri dan merusak sekitarnya. Marah seharusnya tidak terlihat. Hanya auranya saja yang membakar dengan panasnya menjadikan sekelilingnya menjadi abu, hangus dan hitam sehingga manusia bisa melihatnya. Marah itu merusak. Akan tetapi diperlukan. Marah itu seperti penyakit, ikut menular dan menyakiti lainnya. Marah itu menyakitkan. Meninggalkan kesedihan dan dendam di dalam hati. Marah tidak boleh disimpan. Beratnya lebih dari beban yang bisa ditanggung manusia, akan tetapi tidak boleh dilemparkan ke orang lain sembarangan karena sekali dikeluarkan tidak bisa dicabut kembali. Marah itu menyebalkan. Luka yang ditinggalkannya sering tidak bisa hilang.

Marah itu buruk. Sebuah perasaan jelek yang terkadang perlu dikeluarkan dari dalam hati. Marah sebaiknya dirasakan sendiri. Jika terpaksa, baiklah silahkan dikeluarkan biar orang lain ikut merasakan panasnya. Hanya saja pengeluarannya harus sedikit berhati-hati. Sebab marah sangatlah tajam seperti pedang yang memiliki dua sisi. Ia bisa menyakiti kita dan bisa menyakiti orang lain sekaligus. Ia bisa membuat kita mendapatkan apa yang kita inginkan atau membuat kita semakin jauh dari apa yang kita inginkan.

Pengeluaran hawa marah tidak sama seperti pengeluaran zat lainnya dari dalam tubuh. Marah tidak sama seperti kentut yang efeknya memberikan rasa lega walau orang lain tersiksa sebentar jika mencium baunya. Atau tidak sama seperti tahi yang juga memberikan kelegaan luar biasa bagi kita jika dikeluarkan. Atau tidak sama seperti ingus yang hanya mengganggu jika tidak dikeluarkan dan sekaligus memberikan rasa jijik jika dikeluarkan. Juga tidak sama seperti keringat yang memang harus dikeluarkan demi kesehatan badaniah. Akan tetapi tidak sama seperti belek ataupun kotoran telinga yang rutin harus dibersihkan.

Persamaannya adalah, marah itu manusiawi, walau juga terdapat dalam diri binatang. Marah selalu ada di setiap lubuk hati manusia. Marah itu pelajaran, karena melalui keberadaannya maka manusia dapat mengenal kebijaksanaan, salah satu privilege yang pada akhirnya membedakan manusia dengan binatang. Marah itu hidup.

Marah adalah marah.



Marahlah, karena dengan marah maka kita hidup.