Showing posts with label Almighty. Show all posts
Showing posts with label Almighty. Show all posts

April 1, 2011

Prayer

God,

I try hard enough to be good.
And if you see that that’s not enough,
I’ll try harder and harder.

You may test me, tempt me, and try me,
Slap me, step on my foot, bring me to my knees,
You may let me cry, scream, afraid,
Just remind me that You have some reasons to make me this way.

Because I know, You never leave me alone;
You will give me sweet and warm,
You will fulfill my need,
You will hold me when I’m fall,
You will lead me when I’m blind,
You will show me the way when I’m lost,
You will talk to me when I’m deft,
You will comfort me.

Despite all the hardness of life,
Despite all the tears and hurt,
I do know that you will make me smile and laugh too.

I’m pretty sure that You’re planning something wonderful for me,
After all, there is always a rainbow after the rain.

So I’ll try my best not to complaining.
I’ll try to live accordingly to You.
And I believe in You, fully.

October 26, 2010

Prasangka Duniawi

Entah sejak kapan perbedaan beragama mengakibatkan manusia menjadi lebih sensitive dan curigaan. Contohnya, banyak orang merasa bahwa hubungan pertemanan dua orang yang berbeda agama biasanya memiliki hidden agenda kalau salah satunya mengajak yang lainnya beribadah di tempat ibadahnya. Akibatnya manusia selalu membuat sebuah prejudice kalau ada teman yang berbeda agama yang mengajak teman lainnya ke tempat ibadahnya. Beginilah kalau manusia lupa menempatkan diri di posisi orang lain, jadinya selalu gak akan bisa mengerti maksud orang lain tersebut dengan baik. Padahal alasan orang ngelakuin sesuatu belon tentu sama dengan alasan yang ada di benak kita.

Toleransi antar umat beragama yang udah diajarkan dari jaman sekolah dasar ternyata sangat susah dilakukan dalam kehidupan nyata. Saking fanatiknya jaman ini, akibatnya begitu topik beda agama diangkat sedikit aja akibatnya timbul perasaan gak nyaman. Padahal belon tentu tujuannya sengaja untuk tidak menghormati dan menghargai agama lainnya. Lagi-lagi contohnya ya ajakan beribadah itu. Memang banyak juga sih orang yang mengajak beribadah ke tempat ibadahnya dengan tujuan untuk mengubah agama orang lain tersebut menjadi agama yang sama dengannya. Akan tetapi ada juga alasan sentimental lainnya (yang baru gue sadari belakangan ini).

Misalnya alasan simple seperti minta ditemenin. Rasanya wajar ya kalau seorang manusia mengajak sahabat baiknya beribadah ditempatnya walau agamanya beda. Toh orang memang biasa mengajak sahabatnya ke mal, nonton, jalan, nongkrong, menginap, dan hal sehari-hari lainnya. Oleh karena itu akhirnya wajar dong kalau dia mengajak sahabatnya ke rumah ibadahnya untuk menemani dia. Rasanya wajar kalau seorang istri menemani suaminya beribadah ke tempat ibadah suaminya dan sebaliknya jika mereka berbeda agama. Rasanya wajar jika orangtua mengajak salah satu anaknya untuk beribadah ke tempat ibadahnya, apalagi jika pasangannya yang berbeda agama tidak ikut beribadah di tempat pasangannya tersebut.

Bukan berarti alasan mengajaknya itu untuk mengubah pegangan iman lainnya menjadi sama dengannya kan? Rasanya wajar kalau dilihat dari sisi kemanusiaan seperti itu, karena faktanya, pergi ke tempat ibadah sendirian itu rasanya sendirian sekali makanya wajar jika orang mengajak orang lain yang dekat dengannya untuk menemaninya. Memang ada alasan lainnya ketika orang mengajak beribadah, tetapi belon tentu alasannya menyangkut migrasi agama.

Tetapi agama memang tak salah lagi adalah topik yang sensitive. Kalau sudah melibatkan manusia lain jadinya pasti bercampur dengan prasangka manusiawi. Makanya sangat diperlukan penerapan yang kita dapatkan di sekolah dasar, yaitu toleransi antar umat beragama. Karena itu manusia sepertinya harus pintar-pintar menjaga diri dengan berhati-hati dalam membicarakan topic yang satu ini, selain demi menjaga dirinya juga demi menjaga perdamaian dalam komunitas.

Lagipula, bukannya agama itu urusan pribadi dengan Yang Di Atas ya? Siapa kita, manusia biasa, berani menilai sesuatu yang diluar kuasa manusia? Open your mind, people, because actually, God give us a pretty big mind. Don’t waste it.

September 17, 2010

duniawi versus spiritual

Di tengah keributan mengenai ke-agama-an saya mendapatkan ilmu ini dari my previous lecturer. Ada beberapa tahapan ke-agama-an seseorang. Mulai dari level yang paling rendah yang sifatnya simbol-simbol fisik. Level ini akan sangat mementingkan tampilan fisik, hanya meributkan gambar atau simbol semata saja. Tahap selanjutnya adalah beragama tradisi dan membangun kebiasaan, mengikuti acara keagamaan sehingga merasa sudah beribadah. Level berikutnya bersifat hukum sehingga baru mulai betul-betul menggumulkan bagaimana diri sendiri dalam menaati hukum-hukum Tuhan secara tuntas dalam segala aspek. Level terakhir adalah dimana keagamaan sudah melebur dalam nurani terdalam sehingga mampu peka sekali melihat segala sesuatu dari kebenaran ajaran agamawinya. Ilmu yang jujur saja tidak pernah saya dapatkan di sekolah manapun, ternyata malah muncul di arena mengobrol yang tak terduga. Tidak perlu jauh-jauh mempertanyakan atau menilai bangsa, dimanakan diri kita berada dalam tahapan itu?

Di bangsa yang katanya adalah negara berkembang ini, membicarakan kata Tuhan tidaklah tabu, karena Tuhan atau Yang Maha Kuasa masih bersifat general, milik semua orang. Lalu ketika manusia menambahkan unsur kepemilikan, Tuhan saya dan Tuhan kamu, Tuhan saya atau Tuhan kamu, Tuhan saya bukan Tuhan kamu, mulai perbedaan muncul. Agama selalu berkaitan erat dengan Tuhan, tetapi jelas tidak bisa berdiri sebagai sesuatu yang general, karena berbeda dengan Tuhan, agama punya jati dirinya masing-masing. Ketika kepemilikan muncul, maka pengidentifikasian ikut muncul. Mungkin karena itulah maka membicarakan perihal agama akhirnya bisa menjadi tabu, sesuatu yang tidak bisa bebas dibicarakan karena bisa menyinggung satu dengan lainnya.

Yang sejujurnya menjadi aneh, karena agama adalah sebuah jalan di mana jika melaluinya maka manusia bisa sedikit lebih memahami Tuhan dan diharapkan bisa mendekatkan diri pada-Nya. Tetapi dalam faktanya, banyak manusia yang lupa sepertinya bahwa yang pada akhirnya kita temui nanti adalah Tuhannya, bukan agamanya. Bergeserlah paradigma umum sehingga manusia menggunakan ‘agama’ untuk menuju ke ‘agama’ tertentu, dan Tuhan dilupakan.

Seperti diduniakan saja, lalu para agama diurutkan dalam jenjang lebih baik dan buruk seperti pemilihan 50 pria terkaya dalam majalah A atau 100 wanita terseksi menurut majalah B. Seperti diduniakan saja lalu para agama dan Tuhan-nya diberikan kavling-kavling layaknya pemandangan gedung pencakar langit yang saling bersaing untuk menjadi yang tertinggi dan terbaik. Seperti diduniakan saja lalu mendadak semua orang berlomba untuk mengatasnamakan agama dalam setiap perbuatannya seperti pemberian cap dalam dokumen sehingga dinyatakan sah apapun isi dokumen itu.

Sejak kapan agama dijadikan sebuah ajang untuk pertempuran, adu kekuatan dan pertunjukan kehebatan? Apa manusia sudah terlalu lama berada di jalan kapitalisme maka suatu agama dan ke-Tuhan-an pun dikonsepkan seperti dunia yang saling memakan? Sejak kapan agama yang seharusnya memperbaiki hidup manusia malah menciptakan dunia yang penuh kebencian dan ketakutan? Ini seperti sebuah dunia surrealism dalam lukisan karya Salvador Dali dimana kenyataan dibengkokkan sedemikian sehingga terlihat benar. Sejujurnya apa diri ini tahu apa makna benar itu sebenarnya sehingga bisa dengan mudahnya mengatakan salah?

Dimanakah saya sekarang berada sekarang sejujurnya?

April 8, 2010

Mungkin Tuhan lagi kangen sama lo

*dedicated to my-soulmate-sister. dear God, how I miss you, ma’chere..

Persis seperti para wanita yang sedang berada di area quarter life, seperti usia gue saat ini, biasanya sering mengalami apa yang namanya pergolakan pikiran yang diberi istilah quarter life crisis. Bukan berarti gue sedang mengalami apa yang sering disebut sebagai quarter life crisis itu ya. Okay, maybe a little of it, but I’m not stupid enough to bury myself in it. Life’s too precious to waste for that useless phase.

Pada saat-saat seperti ini, pertanyaan yang sering muncul adalah pertanyaan macam ‘habis ini mau ngapain?’ yang merujuk ke kehidupan masa depan sekitar 5-10 tahun ke depan. Entah kenapa pertanyaan itu selalu muncul di benak gue belakangan ini, bener-bener baru belakangan ini. Entah ada sekrup di otak gue yang baru kepasang, atau jangan-jangan malah lepas, soalnya sebelum masa ini gue sama sekali ga mikirin soal ini sama sekali.

Pertanyaan ini mulai muncul sekitar akhir tahun kemarin dan terus berlanjut sampai sekarang, berputar di benak gue tiada henti. Kalau boleh jujur, bukannya gue ga ada bayangan sama sekali mengenai masa depan yang gue maksud itu. Unconsciously, ternyata otak gue sebenarnya sudah mencoba merumuskan segala rencana tersebut lengkap dengan plan A dan plan B-nya. Yah begitulah akibat dari karakter zodiac virgo bergolongan darah a yang melankolis, tipikal orang perfeksionis yang selalu membuat rencana dalam benak ini. Walaupun sebal dan ingin berhenti berpikir, akan tetapi tetap saja sang otak memutuskan berkata lain dan terus menjalankan proses pembuatan rencana tersebut. Ya ampun, apa benak gue gak capek ya tiap rencananya dipatahin sama Tuhan tanpa tedeng aling-aling. Tobat dong, tobat.

Pada intinya, sebenernya masalah masa depan tidak terlalu mengganggu benak gue. Masih dalam ambang batas normal seperti layaknya kekhawatiran mengenai hujan apa enggak sore nanti, macet apa enggak besok pagi, apakah pekerjaan bakal selesai hari ini, mau makan apa ya siang nanti, segala macam kekhawatiran tidak berarti seperti itu yang sering muncul tetapi sama sekali tidak mengganggu jalannya kehidupan sehari-hari. Tapi walau tidak mengganggu, pertanyaan itu selalu ada disana, terus berputar kembali layaknya kaset rusak, dan frekuensi kemunculannya semakin sering belakangan ini. It’s start to disturbing my inner peace.

Selain pertanyaan masa depan, pertanyaan yang sering muncul lainnya adalah mengenai masalah pasangan atau pacar, jelas dan tentu baru sampai tahap situ, bukan sampai pasangan hidup atau jodoh. Pertanyaan itu muncul sebagian besar sebenernya karena lingkungan sekitar gue yang kondusif untuk pertanyaan macam romantisme seperti pacaran. Kenapa? Ya itu simple karena pembicaraan macam itu sering muncul disekitar gue.

Di rumah, bonyok sepertinya mulai khawatir kenapa anaknya yang besar tampak tidak tertarik dengan yang namanya pacaran saat ini. Bonyok malah berulang kali mempertanyakan alasan kesendirian gue, apa jangan-jangan gara-gara masih menyimpan memori soal the x-files (sungguh sumpah ayahanda dan ibunda, bukan karena itu). Gejala khawatir bonyok keliatan jelas kalau weekend gue terlihat seperti mau pergi. Mereka akan mulai mengeluarkan pertanyaan macam ‘sama siapa? cewek apa cowok?’ Since when they care whether I’m going out with man or woman?

Di keluarga besar, cukup dikatakan bahwa saat pertemuan keluarga besar adalah salah satu saat yang paling menyebalkan saat ini. Kalau punya pacar pertanyaannya kapan married. Kalau ga punya pacar pertanyaannya kapan mau nyari. Apapun reaksi gue dari pertanyaan itu pada akhirnya hasilnya bakal disodorin segala kenalan mereka yang single. Holy crap.

Di kantor, nah, kantor itu sebenarnya adalah lembaga biro jodoh yang bergerak di kedok industri. Setiap saat selalu ada saja orang-orang non-lajang yang menanyakan mengenai status. Sepertinya dalam dunia ini status single adalah dosa. Dan again, akhir yang dituju adalah mengenalkan sebanyak mungkin orang single dengan orang single lainnya. Aih.

Tapi semua itu belum seberapa dibanding tontonan yang disuguhkan oleh budaya kapitalis Jakarta. Setiap jalan ke mal, atau menonton bioskop, atau makan di restoran, atau kemanapun deh, dimana-mana selalu saja ada kumpulan pasangan yang terlihat sangat menikmati dunia mereka. Jealousy is one ugly thing, but I can’t help it at all. It’s like thinking about what’s wrong in me that I haven’t found someone at all. Silly thought, because I’m sure there’s nothing fatally wrong in myself. I’m not saying that I’m flawless, nobody’s perfect, right? But really, I think I’m not that bad.

Self pitying really doesn’t suit me at all. The only problem that I, and every single person in this world, am still single is that because the time hasn’t come yet. Come on, from 1 billion singles in this world (5 billions people in the world minus 2 millions under-ages minus 1 billion already married minus 1 billion elderly), I’m pretty sure someone out there is going to suit me perfectly. I do have many great qualities and it’s not my fault (or our fault, every singles out there!) that my status is still single. It’s just the time hasn’t come yet.

Gue sadar betul dengan fakta itu, dengan statistic itu, dengan keadaan itu. Gue sadar tapi entah kenapa tetap terasa ada riak-riak kegelisahan ketika membicarakan masalah pasangan itu. Dan itulah saat ketika teman gue menghibur dengan ucapannya yang khas.

‘Mungkin Tuhan lagi kangen sama lo nya. Makanya dijauhin dikit.’
‘Hah?’
‘Biar lo berdoa.’


Smart ass. That kind of smart and witty words cuma bisa keluar dari mulut, atau pikiran, temen gue yang satu ini.

Anyway, maybe that’s so true, God want me to state my pray right away. Not pleading to Him, or just hoping and wishing, or anything unclear, but states it clearly. Sampai saat ini gue selalu doa dalam bentuk kepasrahan, ga berani meminta atau memohon, hanya menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan. Mungkin Tuhan pengen tau sebenernya apa mau gue sebenarnya. That way I’ll learn to make some important decisions myself, not throwing all of it in God’s hand and blame Him for everything later. That way He’ll know what I want and teach me to respecting His decisions and stop blaming Him for everything bad that happen later. He just want to know what we’ve want in this life.

Because I do believe God’s always answering your prayer. What we should do is just telling Him and waiting His answer to come. It might be yes and He’ll give you right away, it might be no and He’ll give you another one, or it might be wait and you simply just need to wait till the answer come.

Ask and it’ll be given to you, because I think God want us to make our decisions sometimes.