September 29, 2010

destiny, with a sense of humor

Walking with you is one weird journey. First I ask for what I want, and it turns out that I get what I want plus what I need, all in one package.

It’s a journey without promise, without sweet words, without plan, without a glimpse of future. And it turns out that I like it. I, the compulsive planner, like it. Weird but true.

Who needs future when I have today? And I think I’m big enough to realize that nobody could promise about something they don’t really know. And future, future is one thing anyone sure won’t know about.

So why worry about it? We have today and let’s make it memorable.

After all, life is full of surprise, some up some down. Some call it coincidences, some call it fate.

I call it serendipity.

Like you said, love will always find a way.

September 24, 2010

Cerita twenty-something

Umur twenty-something buat gue yang seorang wanita lajang berarti adalah rangkaian undangan pernikahan kenalan atau saudara sepantaran. Buat wanita lajang tanpa kekasih maka di pesta semacam itu yang sering muncul adalah pertanyaan ‘kapan nyusul’ yang akan diikuti oleh jawaban ‘nyusul sama siapa’ yang nantinya pasti merembet ke nasehat, petuah, maupun pembicaraan kurang menyenangkan lainnya. Buat wanita lajang dengan kekasih maka yang pasti muncul adalah pernyataan ‘kapan nyusul’ yang berbentuk pertanyaan tapi sebenarnya lebih mirip ke pernyataan ‘nyusul dong’ yang biasanya pasti akan diikuti jawaban ‘tunggu biayanya’ yang lanjutannya merupakan obrolan wanita yang sebaiknya disensor dari telinga pria. Such a pressure, bahkan orang yang paling cuek sekalipun lama-lama bakal merasa punya semacam tekanan sosial.

Pernikahan. Suatu ajang yang buat wanita kebanyakan adalah seperti pencapaian hidup. Siapa bilang bahwa wanita modern sudah lebih luas pikirannya? Kalau diteliti gue yakin pasti sebagian besar otak wanita dipenuhi topik tentang pernikahan, terutama pestanya.

Yang harusnya gak wajar. Memangnya orang yang belum menikah bisa tahu apa itu pernikahan, atau lebih jelas lagi, kehidupan pernikahan? Kalau belum tahu kenapa berani memikirkan pestanya? Kenapa upacara dan pesta pernikahan sekarang malah menajdi lebih penting dari esensi pernikahan sendiri. Buktinya adalah jawaban ‘tunggu biayanya’ yang selalu terlontar membuktikan bahwa pesta lebih penting daripada kehidupan sesudah pesta.

Pesta yang harganya super tidak wajar mengingat satu pesta biayanya bisa digunakan untuk membeli sebuah mobil kalau biasa, atau rumah di perumahan elit kalau luar biasa. Belum lagi kebanyakan tamu yang datang adalah muka-muka tak dikenal yang adalah saudara super jauh atau relasi orang tua mempelai. Lalu keributan dalam membuat sebuah acara maha besar ini dari persiapan sampai hari H sejujurnya bisa membuat pasangan manapun bertengkar hebat karenanya (makanya banyak wedding planner bukan?). Begitu mengetahui faktanya, rasanya menikah tamasya itu indah ya? Belum lagi kenyataan bahwa acara besar-besaran semacam itu bukan jaminan bahwa didepan sana menunggu kebahagiaan yang tak terkira.

Oleh karena itu, gue, seorang wanita lajang twenty something belakangan sudah membuang semua data pernikahan dari otak gue jauh-jauh. Ngapain dipikirin, kayak hidup udah kurang susah aja pake mikirin hal yang belom waktunya dipikirin. Mungkin gue nikahnya beberapa taun lagi, mungkin tau-tau besok. Mungkin dipestain mungkin enggak. Mungkin gue bakal nikah sama orang ketiga yang ngelamar gue ato ama orang yang ngelamar gue tiga kali. Who knows? Yang pasti dari kehidupan itu kan ketidakpastian.

Yang jelas, gue bakal nikah sama orang yang cinta sama gue setengah mati, orang yang bisa ngeluarin semua yang terbaik dari dirinya buat gue dan cuma karena gue, orang yang bisa bikin gue ngeluarin semua yang terbaik dari diri gue demi dia, orang yang bisa bikin gue lumer setiap ngeliat cinta dia ke gue di mata dia dan bikin gue bisa bilang iya buat apapun yang dia minta, orang yang gak sempurna yang cintanya ke gue begitu sempurna dan menjadikan kami pasangan sempurna. Mungkin itu tujuan hidup gue, buat nyari orang semacam itu, atau bahkan biar aja dia yang nyari gue sampe ketemu. Sekali lagi, gak ada yang pasti di dunia, tugas kita adalah berusaha untuk yang terbaik. Mungkin lo mikir gue ngayal, atau mimpi ketinggian. Boleh aja dong, ini kan hidup gue. Apapun yang gue mau itu sah-sah aja kan?



I just want to believe that maybe fairy tales does exist somewhere in the future :)

September 22, 2010

it's all about shoes

One day, my boyfriend asks me, what’s my favorite thing? After few minutes of contemplation (contemplation?! blah!), I’ve got the answer.

Why it took me so long to define it? It’s really simple.

Shoes.

Yeah, shoes. The things that we wear in our feet.

I love all kind of them.





















They’re my biggest obsession from I don’t know when. I can spend hours just to walk around the mall and see all the shoes stores exist. I like to try them. I like to touch them. I couldn’t but all of them of course, they’re so damn expensive sometimes. I just like to see them, and try them if I like it, and sometimes when I want to spoil myself, I buy them if my ATM can afford it of course.

One of my deepest dreams is to own one super big closet where I can put all of those beautiful shoes of mine that I’ll have later in my life. I couldn’t blame shopaholic woman when it comes to fashion, because I myself really love to own few pairs of beautiful shoes.























And I’m not some uncontrolled shopaholic. Yes, I love shoes. Yes, I love to wear them. But I just buy them when I need it or when I feel I deserve to buy it.

If you wonder why I love shoes so damn much? It’s simple.

























One, they’re simply gorgeous.

The higher the better, make me feel higher, better, prettier, and sexier.

Yes, sometimes they hurt so much. They’re like some high class bitch that men want to have as a partner in a party but not as a wife in life.
























Second, some of them are like the symbolism of freedom.

The softer the better, they make my step easier, lighter, and more comfortable.

And yes, sometimes they look so casual, so simple. But the real quality of them won’t fool you. High quality won’t hurt your feet, only hurt your wallet maybe.























High-heels (kitten heels, stiletto, and wedge). Mules (no back around the heels). Slingbacks (secured by strap behind the heels). Platform (very thick soles and heels). Court shoes, known in the US as pumps. Boots. Ballet flats, known in the UK as ballerinas, ballet pumps or skimmers. Sneakers or canvas. Moccasin (soft shoes without a heel and usually made of leather). Saddle shoe (leather shoe with a contrasting saddle-shaped band over the instep). Slip-on shoe. Boat shoes. Flip-flop.

Oh my, just talking about them makes me fly.

No wonder I adore Weitzman, I love Choo, I’m craving for Ferragamo, I cherish Madden, I have lust for Lacroix, I worship McQueen.

And above all of them, I pronounce Loubotin as the King of all. He’s my God in the shoe world.

Shoes are definitely my soft spot in life. And having a closet full of them is my utopia.

September 17, 2010

duniawi versus spiritual

Di tengah keributan mengenai ke-agama-an saya mendapatkan ilmu ini dari my previous lecturer. Ada beberapa tahapan ke-agama-an seseorang. Mulai dari level yang paling rendah yang sifatnya simbol-simbol fisik. Level ini akan sangat mementingkan tampilan fisik, hanya meributkan gambar atau simbol semata saja. Tahap selanjutnya adalah beragama tradisi dan membangun kebiasaan, mengikuti acara keagamaan sehingga merasa sudah beribadah. Level berikutnya bersifat hukum sehingga baru mulai betul-betul menggumulkan bagaimana diri sendiri dalam menaati hukum-hukum Tuhan secara tuntas dalam segala aspek. Level terakhir adalah dimana keagamaan sudah melebur dalam nurani terdalam sehingga mampu peka sekali melihat segala sesuatu dari kebenaran ajaran agamawinya. Ilmu yang jujur saja tidak pernah saya dapatkan di sekolah manapun, ternyata malah muncul di arena mengobrol yang tak terduga. Tidak perlu jauh-jauh mempertanyakan atau menilai bangsa, dimanakan diri kita berada dalam tahapan itu?

Di bangsa yang katanya adalah negara berkembang ini, membicarakan kata Tuhan tidaklah tabu, karena Tuhan atau Yang Maha Kuasa masih bersifat general, milik semua orang. Lalu ketika manusia menambahkan unsur kepemilikan, Tuhan saya dan Tuhan kamu, Tuhan saya atau Tuhan kamu, Tuhan saya bukan Tuhan kamu, mulai perbedaan muncul. Agama selalu berkaitan erat dengan Tuhan, tetapi jelas tidak bisa berdiri sebagai sesuatu yang general, karena berbeda dengan Tuhan, agama punya jati dirinya masing-masing. Ketika kepemilikan muncul, maka pengidentifikasian ikut muncul. Mungkin karena itulah maka membicarakan perihal agama akhirnya bisa menjadi tabu, sesuatu yang tidak bisa bebas dibicarakan karena bisa menyinggung satu dengan lainnya.

Yang sejujurnya menjadi aneh, karena agama adalah sebuah jalan di mana jika melaluinya maka manusia bisa sedikit lebih memahami Tuhan dan diharapkan bisa mendekatkan diri pada-Nya. Tetapi dalam faktanya, banyak manusia yang lupa sepertinya bahwa yang pada akhirnya kita temui nanti adalah Tuhannya, bukan agamanya. Bergeserlah paradigma umum sehingga manusia menggunakan ‘agama’ untuk menuju ke ‘agama’ tertentu, dan Tuhan dilupakan.

Seperti diduniakan saja, lalu para agama diurutkan dalam jenjang lebih baik dan buruk seperti pemilihan 50 pria terkaya dalam majalah A atau 100 wanita terseksi menurut majalah B. Seperti diduniakan saja lalu para agama dan Tuhan-nya diberikan kavling-kavling layaknya pemandangan gedung pencakar langit yang saling bersaing untuk menjadi yang tertinggi dan terbaik. Seperti diduniakan saja lalu mendadak semua orang berlomba untuk mengatasnamakan agama dalam setiap perbuatannya seperti pemberian cap dalam dokumen sehingga dinyatakan sah apapun isi dokumen itu.

Sejak kapan agama dijadikan sebuah ajang untuk pertempuran, adu kekuatan dan pertunjukan kehebatan? Apa manusia sudah terlalu lama berada di jalan kapitalisme maka suatu agama dan ke-Tuhan-an pun dikonsepkan seperti dunia yang saling memakan? Sejak kapan agama yang seharusnya memperbaiki hidup manusia malah menciptakan dunia yang penuh kebencian dan ketakutan? Ini seperti sebuah dunia surrealism dalam lukisan karya Salvador Dali dimana kenyataan dibengkokkan sedemikian sehingga terlihat benar. Sejujurnya apa diri ini tahu apa makna benar itu sebenarnya sehingga bisa dengan mudahnya mengatakan salah?

Dimanakah saya sekarang berada sekarang sejujurnya?

September 16, 2010

Memories of July

Juli adalah bulan dimana gue dapet kesempatan buat ngalamin apa yang namanya kenangan masa lalu. Lucunya, apa yang ada di benak gue ternyata bisa sama bisa beda sama apa yang ada di realitas. Mungkin kenangannya salah atau emang kondisinya berubah tapi jelas kenangan bisa beda dengan kenyataan. Contohnya banyak, tapi kejadian signifikannya ada dua, dan kebetulan keduanya terjadi di bulan Juli ini. Satu adalah PRJ. Satu lagi adalah Pantai Mutiara.

Pertama adalah PRJ, atau Pekan Raya Jakarta yang selalu digembor-gemborkan sebaga suatu pesta rakyat secara besar-besaran. Tempatnya selalu sama dan tanggalnya juga selalu hamper sama tahun ke tahun, di Kemayoran selama sebulan dari Juni sampai Juli. Iseng aja mendadak berniat kesana, sekedar rasa ingin tahu buat liat udah kayak apa sih PRJ tahun ini. Di benak gue, PRJ selalu rame, stand ada dimana-mana, banyak SPG berkeliaran, banyak anak kecil dibawa serta, banyak kerak telor, dan banyak benda aneh yang bisa dilihat. Ternyata entah memang PRJ tidak berubah atau bagaimana tapi ingatan gue persis sama, bahwa PRJ lumayan mengerikan buat gue.

Karena PRJ memang cuma boleh didatangi sekali dalam setahun saja. Karena orangnya ternyata banyak sekali, sepertinya semua penduduk Jakarta tumpah disana. Buat dapet parkir aja udah ngabisin setengah hari sendiri. Dan jelas, PRJ bukan tempat yang cocok buat bersanai, karena semuanya serba bergerak dalam kecepatan dan kerumunan yang mengerikan. Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak berdesak-desakan dengan berbagai macam manusia. Kenangannya sama, cuma elemennya yang berbeda. Kesannya sama, tapi entah iseng atau gue lupa dengan memori tentang PRJ itu sendiri, atau mungkin malah harapan siapa tahu PRJ berubah, yang jelas semuanya nyaris sama persis di benak gue.

Menyesal? Tentu tidak. Suasana mengerikan penuh sesak itu punya charm-nya sendiri. Dari sana kita bisa melihat kultur budaya Jakarta walau tidak total, tapi at least kita bisa mengintip sebagian nyawa Jakarta. Tapi jujur kalau disuruh kesana lebih dari sekali dalam setahun sih enggak deh, makasih banyak. Dan lagipula justru ternyata di tempat semacam inilah bisa terbentuk kenangan baru dari persepsi dan emosi yang tertinggal di benak.

Kedua adalah Pantai Mutiara. Suatu hari, kami memutuskan berjalan-jalan ke pantai. Dan pilihan kami jatuh pada Pantai Mutiara yang katanya lumayan buat berjalan-jalan santai. Gue kesini dengan berbekal ingatan masa kecil, mungkin masa-masa TK. Dulu ayahanda dan ibunda sering membawa gue dan adik tengah (karena adik bungsu belum lahir) untuk berjalan-jalan disana. Bahkan si adik tengah sepertinya sering latihan jalan disana. Maklum, dulu rumah kami tinggal dekat dengan pantai ini.

Di ingatan gue, pantai ini lumayan besar, masih kasar (maksudnya seperti pantai di Anyer yang dibiarkan seperti alam bebas), banyak tumbuhan entah kelapa atau bakau di sepanjang garis pantainya. Lalu banyak deretan rumah-rumah besar yang memarkir speedboard atau jetski dihalaman pantainya. Pemandangan yang cukup ofensif, tapi mengingat mereka selalu kebanjian di musim tertentu, fair enough buat ukuran duniawi (walau kabarnya rumah-rumah besar ini hanya merupakan semacam vila saja jadi harusnya banjir setahun sekali tidak memberikan dampak apapun buat mereka). Dan yang paling jelas di ingatan, yaitu adanya pasir pantai yang bisa untuk bermain.

Masih misteri sampai detik ini entah ingatan gue salah total atau memang demografi Pantai Muiara berubah wujud. Yang jelas pantainya tak seperti bayangan gue. Ada sih pohon entah kelapa atau palem yang ada di pinggirnya. Dan rumah-rumah ofensif masih berdiri disana dengan angkuh, bertambah banyak malahan. Lalu ada apartemen atau condominium atau gedung apalah itu yang mencolok sekali baik tinggi, bentuk, maupun pantulan kacanya disana. Masih banyak orang berjalan-jalan dengan sepeda atau kaki. Ada beberapa yang piknik atau duduk-duduk di tepi pantai sambil mengobrol. Banyak deretan mobil diparkir di tepi jalan sementara tuannya turun berjalan-jalan santai. Ada fotografer entah betulan atau jejadian bersama sepasang wanita yang entah model betulan atau jejadian mengambil shoot disana. Ada beberapa keluarga membawa jalan anjing mereka yang kecil berbulu bahkan sampai besar tak berbulu.

Tapi tidak ada pasir, seenggaknya pasir yang bisa digunakan untuk bermain. Tidak ada pantai dimana kita bisa bermain pasir. Tidak ada suasana alam bebas lagi. Semuanya rapi seperti layaknya perumahan biasa, baik jalanannya, susunan rumahnya, tepi pantainya, dan suasananya.

Kecewa? Tidak juga. Air di pantai lumayan jernih dan kebetulan hari itu matahari lumayan muncul dibandingkan hari lainnya yang selalu saja mendung. Dan akhirnya hari ini gue paham kenapa pantainya dinamakan Pantai Mutiara. Pantulan matahari terbenam di permukaan air dari batas cakrawala yang memanjang sampai ke titik tertentu menonjolkan buih air yang berkilauan seperti mutiara. Ahhh, it was our first sunset and it was memorable. Walau ingatan ternyata menipu dan pantainya bukan pantai betulan dimana kita bisa bermain pasir, sekali lagi gue diingatkan bahwa memori itu hanya dibangun dari kenangan tentang emosi yang tertinggal di pikiran saja.
Living our memories, sometimes vivid, sometimes blurry. It can be right or it can be wrong. We would never understand the right part or the wrong part, because it’s just a memory.