March 31, 2010

Perfection

It’s just the word that we worship from one era to another era. Ancient culture worshiped perfection from their King. Classicism era worshiped perfection from philosophy. Renaissance era worshiped perfection from art. Modern era worshiped perfection from money and power. Postmodern era worshiped perfection from human mind.

Let’s just say that every human always has a weakness for perfection. Era through era, the things change but the main idea of worshiping is the same, perfection. Nearest example are from today’s culture. Let’s admit it, even though we're already in postmodern area, somehow our modern culture still exists in every aspect of life. Few groups already show their lifestyle as postmodernism, show but not state because when you stated it, the essence of postmodernism will be gone. But still, all of our daily lives are ruled by a modern way.

Achieving perfection in a modern way is usually about physical world or material world. All the capitalism that makes us work 9-5 hours, 5 days a week. The entire ‘money is everything’ slogan. Living in suburban area and working in metropolitan city. Having a house with rooms for each occupant. Each of those rooms completed by a bathroom, television set, computer set, book shelves, and many other things that should be put in a living area. Each of those occupants drives his/her own car, means that your house garage is extensive. Each occupant is seldom talking with the others because of office hours. Having a life scheduled, born, school, graduated, work, getting mature, getting money, getting rich, getting married, having children, getting old, die. All of our lives in this era is being patterned. For our perspective, that’s perfection. You can’t escape it, because when you choose other way, all the people around you will talk you to dead. My, we should pitying our self.

Whether you realize it or not, whether you contradict my words, our entire mind already set in that way. We’re living in modern way, and our entire path is in modern way. Even all of our choices are taken in modern perspective, we are worshiped perfection in money and power in physical and material world.

Example:

First, when we are born, or even when our parents are pregnant with us, they choose perfect gynecologist. They eat perfect foods. Drink perfect vitamins. Listen perfect music. Choose a perfect hospital. Give perfect milk. Prepare a perfect nest. All perfection.

Second, when we grow up, they choose a perfect school for us. Choose perfect friends. Give perfect toys, or whatever suitable for our age, like perfect books, perfect dresses, perfect car, and perfect cellular. Again, everything is in a perfect order.

Third, after all of those patterns, we graduate and start our own lives in a perfect order. Choose perfect office, perfect work, even perfect boyfriend or girlfriend, perfect marriage ceremony, perfect house, perfect family pets, perfect everything.


Now can you see our twisted world? I mean, what is perfect anyway? When will we realize that making perfect plan for our life won’t make it perfect? Human can plan in the first place, but God will decide later. Wasting your time to planning everything will make you forget how to live your life. I can say it because I experienced it before.

All my life, I become a walking-planner for everything I've done. And that's just tiring, not to say that the reality always bites. Hundreds experiences is trying to tell me something, don't you think so? Life teach me hard way, but after I see it with clearer view, I think I understand the reason behind it. God want me to stop planning anything.

From now on, instead of wasting time for planning everything, I just want to enjoy every seconds I have doing anything I like. That way, at least I’ll have perfect memories about my own life. I really wish this decision will lead me to better ending. But if it's not, at least I won't regret anything at all.

Have a great life, everyone :)

Tertanggal: tujuh-tujuh-dua kosong kosong sembilan

asli gue inget banget saat-saat gue bikin puisi kenangan jadi-jadian ini. hari itu weekday biasa, gue lupa sih hari persisnya. tanggalnya gue bukannya inget, tapi ada di file microsoft word-nya. saatnya hampir jam lunch gitu, sekitar jam sebelas. waktunya tepat di Johanes Oentoro Library second floor, di sofa sebelah kiri kalau dari tangga turun, sofa yang ada pilar bersakelar-nya.

gue ada disana buat nyelesaiin revisi Laporan Pengantar Tugas Akhir gue. sidang empat udah lewat beberapa waktu walau deg-degannya ga hilang-hilang juga. kepastian lulus udah keluar (syukurlahhh). ngantuk sih udah ga usah disebutin. kayaknya saat itu gue udah kurang tidur selama tiga bulan (yah, habisnya tiga bulan terakhir tiap hari cuma tidur dua jam saja). ini saat gue nyandu banget ama yang namanya kopi, drink coffee like water deh.

mendadak gue ngerasa mellow and kangen ama temen-temen kuliah, walau belum resmi pisah ke jalannya masing-masing. paling enggak setelah ini jalan kami semua udah jelas, terpisah di path kami sendiri. ahhh, how i missed those old-school times.

akhirnya gue sejenak memindahkan program dari excel (diagram matrix menyebalkan yang rumitnya ajagilabinjalik ini udah bikin gue pusing berjam-jam) ke word dan mulailah menggombal. yah inilah isinya, kalau dibaca lagi agak-agak merinding gimana gitu, tapi yasudahlah. i still miss u all!


minggu terakhir,
ketika kilas balik perjuangan satu semester terakhir berulang kembali di ingatan,
bagaikan film pendek, penuh dengan tangis dan tawa…
minggu terakhir,
ketika semua perjuangan empat tahun ini berakhir pada satu titik ini…

teringat semua kisah,
tentang kebersamaan, tentang sedih maupun bahagia,
tentang masa-masa dimana semua terasa tidak mungkin…

teringat masa dimana kita berkumpul,
mengerjakan tugas bersama, sambil tertawa,
mengerjakan tugas bersama sambil berdebat,
mengerjakan tugas bersama sambil mengobrol,
asal ucap, maupun dari hati ke hati,
ringan maupun berat…

teringat masa dimana kita berkumpul,
bersenang-senang melepas beban setiap semester,
atau bahkan ditengah semester, selama ada waktu memungkinkan,
asal hati senang..

teringat masa dimana kita berkumpul,
di kelas, saat pelajaran terasa menyenangkan,
di kelas, saat pelajaran terasa memuakkan,
walau mata perih karena mengantuk, badan pegal karena duduk seharian,
dan perut menjerit karena lapar,
tetapi sebentuk tawa tetap ada di wajah kita..

teringat masa dimana kita bersama,
membolos walau itu dilarang,
terlambat yang walau tidak dilarang tetapi dibatasi,
bergosip yang tidak dilarang,

teringat masa dimana kita sendiri,
mengerjakan tugas yang sepertinya tak akan selesai,
saat-saat dimana bahkan tangis pun tak akan membantu apa pun…
saat dimana kita tak berani memejamkan mata walau kantuk tak tertahankan,
saat dimana badan letih lesu karena beban lelah menumpuk,
saat dimana kita lupa bahwa matahari masih terbit dan terbenam seperti biasa,
saat dimana mulut hanya bisa mengeluarkan keluhan,
saat dimana doa adalah satu-satunya tenaga penguat,
dan teman bernasib sama adalah satu-satunya penghibur…

tapi kini,
saat semua masa itu sudah berlalu,
saat ketika kita berdiri disini,
menggenggam ingatan tentang satu tahapan dalam hidup,
saat dimana hanya selembar ijasah sajalah,
yang menjadi bukti perjalanan,
saat dimana hanya foto dan kenangan sajalah
yang menjadi saksi perjalanan kita selama ini,
saat dimana hanya teman sajalah,
yang menjadi saksi hidup,
bahwa kita pernah ada disini,
berjuang bersama…

mahasiswa,
itulah gelar yang kita bawa dalam diri,
dan kita pegang dalam hati,
sebuah nama pekerjaan yang kita tulis dalam KTP,
selama masa empat tahun ini…

mahasiswa,
sebuah alasan dan pelarian,
dimana kesalahan-kesalahan yang kita lakukan masih diampuni,
karena kita mahasiswa…

mahasiswa,
masa terakhir kita bisa berbuat sekehendak hati,
sebelum memasuki tahap pendewasaan…

tapi, teman,
here we are,
di titik akhir perjuangan kita,
tinggal sejengkal perjalanan kita sebelum mencapai akhir dari tahap ini,
dan awal dari tahap lain.

here we are,
in the last step of journey,
ready to embrace the future…


best regards, friends…
it’s really nice to know you all…


dan setelah dibaca ulang, full of optimistic yaaa anak kuliah baru lulus itu... sighhh, future adalah sebuah kata yang beratnya ga terduga. anyway, really wish everyone all the best in life! :))

Miss you all :))

Naar Boven Bandung 2010 - Saung Angklung Udjo

Sekitar tiga minggu lalu, gue ikut study tour 'Naar Boven Bandung 2010' yang diadakan berdasarkan kolaborasi antara DKV-DI, khusus DI diurus oleh HMDI sekalian untuk kebersamaan angkatan 2009. Sedikit melenceng dari topik, duhhh enak yaaa jaman sekarang, mahasiswa baru disediain study tour. Jaman gue mah boro-boro diadain gituan. Kasian deh angkatan tua...

Nah, balik ke topik semula. Salah satu acara suguhan study tour ini adalah kunjungan ke Saung Angklung Udjo, gue yakin pasti sebagian udah pada tau soal tempat ini. Gue sih jujur aja selama ini selalu cuma denger aja nama tempat ini, ga pernah beneran dateng kesana. Jadi kunjungan pertama ini, bagi gue yang awam sama sekali, menurut gue sangat berkesan.

Alasannya, pertama, waktu denger nama Saung Angklung, yang muncul di benak adalah tempat belajar angklung atau galeri angklung, ya ga salah juga sih karena dia emang ada sekolahnya. Kenyataannya, saung ini menyuguhkan pertunjukan kecil-kecilan sebagai wujud penyosialisasian dan pemahaman apresiasi masyarakat terhadap Alunan Rumpun Bambu, khususnya angklung.

Kedua, waktu tau kalau disini kami bakal nonton pertunjukan, yang bikin terkejut adalah lamanya pertunjukan. Konon katanya lamanya 2 jam lebih, dan beberapa orang bilang kalau pertunjukannya membosankan. Disinilah kami harus belajar untuk tidak menerima mentah-mentah informasi yang disuguhkan orang lain ke kami supaya tidak terbentuk paradigma awal dalam benak kami akan suatu hal sebelum kami mengalaminya sendiri, karena buktinya, pertunjukan Saung Angklung Udjo sangat jauh dari membosankan. Gue ngomong gitu bukan karena promosi atau gimana ya (ga ada untungnya sama sekali buat gue promosi tempat ini lagian).

Ketiga, baru kali ini takjub kepada ide seseorang yang begitu mengapresiasikan budaya lokal-tradisional dan mencoba mengenalkan budaya itu ke kami, kaum awam ini. Sistem pertunjukan Saung Angklung Udjo uniknya sangat jauh dari kesan monolog. Sebaliknya malah, pertunjukannya menggunakan sistem dialog antara penonton dan pelakonnya. Ini adalah pengalaman 2 jam untuk memahami adanya Unity in Diversity diiringi lantunan Alunan Rumpun Bambu.



Awal tiba di lokasi Saung Angklung Udjo, jam menunjukkan pukul 3 sore, cuaca mendung rintik-rintik. Kondisi badan cukup lelah akibat kegiatan non-stop dari subuh bangun untuk bersiap-siap - berangkat ke meeting point di kampus - persiapan kecil-kecilan - perjalanan ke bandung dengan bus rombongan - tiba di bandung dan langsung beraktivitas di salah satu galeri patung terkemuka untuk mengikuti workshop - lanjut perjalanan ke Saung Angklung. Rasa lelah dan cuaca awalnya jujur bikin gue ga antusias buat ngikutin acara ini. Males banget nonton pertunjukan angklung, yang katanya membosankan, selama 2 jam.

Tiba disana, kami disambut deretan usher wanita berkebaya yang membagikan pamflet, souvenir berupa kalung berbandul angklung, dan first drink. Lalu kami digiring masuk ke area penjualan souvenir (yah, seperti semua layaknya tempat wisata lainnya yang menyediakan arena souvenir) yang menjual berbagai benda kerajinan tangan tradisional. Kami diminta berkeliling sebentar untuk menunggu bubarnya rombongan sebelumnya dari area pertunjukan (ya, area, bukan ruang).

Sekitar 20 menit kemudian, kami dibawa ke area pertunjukan yang merupakan area terbuka seperti gazebo besar berbentuk bulat yang memiliki panggung di satu sisi dan area duduk berundak disisi sisanya. Area tengah dibiarkan kosong seperti arena gladiator jaman dahulu. Sambil duduk menunggu tempat terisi, iseng-iseng memandangi penonton lain di sekeliling. Wah ternyata gue kalah sama bule mancanegara. Ada cukup banyak penonton bule (dan non-rombongan pastinya karena duduknya terpisah-pisah) yang datang sendiri atau berkelompok atau dengan keluarganya yang dengan antusias menunggu mulainya pertunjukan.

Pertunjukan dipandu oleh seorang MC wanita berkebaya berpenampilan menarik, yang lucunya membawakan acara ini dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Sekali lagi kekaguman muncul, wah, pertunjukan angklung aja bilingual loh. Bahkan setelah mengamati lebih lanjut, bahkan pamphlet yang dibagikan di awal ternyata disediakan dalam dua versi bahasa. Untuk turis mancanegara diberikan versi bahasa Inggris.

Para pelakon dalam acara ini beragam dari 2 tahun sampai 15 tahun. Awal-awalnya berkesan seperti pertunjukan angklung biasa, ada pelakon di panggung dan arena, dan kami murni menjadi penonton. Lalu perlahan-lahan sistem berganti sedikit2 menjadi sebuah dialog. Urutan acara antara lain Demonstrasi Wayang Golek, Helaran, Tari Tradisional, Calung, Arumba, Angklung Mini, Angklung Padaeng, Bermain Angklung Bersama, Angklung Orkestra, Angklung Jaipong, dan Menari Bersama.





Demonstrasi Wayang Golek merupakan pementasan singkat dan peragaan dari wayang golek yang sebenarnya. Helaran adalah pertunjukan yang biasa digunakan untuk mengiringi upacara tradisonal khitanan maupun upacara panen padi. Tarian dimainkan oleh anak-anak beragam usia dengan seorang anak yang paling kecil didudukkan di tandu kecil dan diarak berkeliling. Tari tradisional mementaskan Tari Topeng dan Tari Merak. Calung adalah pertunjukan instrumen yang terbuat dari bambu, dimainkan oleh 4-5 orang. Arumba (Alunan Rumpun Bambu) juga merupakan instrumen tradisional yang bertangga nada diatonis. Angklung Mini digunakan untuk menyanyikan lagu-lagu sederhana, disinilah para pelakon mengajak penonton untuk ikut menyanyikan lagu yang popular di berbagai Negara seperti The Song of Do Re Mi dan lainnya. Lalu ada pertunjukan Angklung Padaeng yang menggunakan laras nada diatonis. Selanjutnya Bermain Angklung Bersama, bagian menarik dimana pelakon mengajak penonton untuk ikut mempelajari angklung. Caranya adalah para pelakon membagikan satu piece angklung, yang hanya memiliki satu nada, kepada setiap penonton. Tentunya nada yang dibagikan berbeda-beda untuk setiap orang. Kemudian mengajak penonton membunyikan angklung tersebut pada saat yang tepat untuk membentuk alunan irama lagu sehingga seluruh penonton ikut terlibat dalam satu orkestra masal. Setelah itu dilanjutkan dengan Angklung Orkestra yang dimainkan oleh siswa yang lebih besar, disambung dengan Angklung Jaipong. Acara terakhir adalah acara Menari Bersama yang dipandu oleh para pelakon pertunjukan dengan mengajak sebagian penonton untuk ikut turun ke arena pertunjukan dan menari bersama untuk memberikan perasaan riang dan akrab.





Setelah menonton pertunjukan ini baru terasa bahwa musik memang bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapapun yang mendengarnya. Teknik pertunjukan Saung Angklung Udjo mengajarkan bagaimana angklung, sebuah alat musik tradisional yang jarang diperhatikan, sebenarnya dapat mengajarkan sesuatu yang luar biasa, yaitu Unity in Diversity. Satu pecahan angklung yang hanya memiliki satu nada mungkin tidak akan memberikan kesan khusus, akan tetapi kumpulan pecahan angklung yang memiliki nada yang berbeda-beda dapat membentuk suatu orkestra Alunan Rumpun Bambu yang luar biasa. Apalagi dalam pertunjukan ini para pelakon mengajak penonton yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan memakai berbagai bahasa untuk bergabung memainkan nada yang familiar untuk membentuk suatu bahasa musik universal.

Saung Angklung Udjo memiliki ide luar biasa untuk mengenalkan budaya tradisional yang sudah selayaknya diapresiasikan oleh kami semua. Salut untuk Saung Angklung Udjo, semoga kelak dapat terus berkarya untuk mengenalkan budaya bangsa Indonesia yang sering terlupakan dan mengemasnya dengan ide-ide baru yang orisinil.



Cheers :)

PS. Seluruh data diambil dari Sinopsis Pertunjukan Bambu Petang.
Seluruh gambar diambil dari website official Saung Angklung Udjo.

Website: www.angklung-udjo.co.id

March 30, 2010

Soft Opening

Welcome to my blog (akirnyaaa)

Udah lama banget sejak terakhir kali nulis di blog kayak begini, apalagi ditambah blog yang dulu terminated gara-gara lupa id and password. Finally memutuskan untuk membuat yang baru karena: Pertama, bosen ditanyain sama beberapa temen gue, yang punya teori kalau orang suka baca pasti suka nulis juga (Vin, Dea, gue buat nih akirnya), dan Kedua, komputer dan email gue mulai muak menampung file tulisan yang ditulis di saat-saat paling low, skeptis, dan saat-saat emosional lainnya dalam hidup gue.

Sorry kalau blog ini berkesan seperti tak bertema. Sebenarnya emang ga ada tema jelasnya sih. Toh ini blog gue dan apapun yang mau gue masukin kesini itu bener-bener tergantung mood-swing gue. Maybe one day u’ll find my works here in poems. Or my writings about anything. Or maybe a feature. Or maybe my emotional-mental-breakdown writing. Or maybe a journal. I don’t know, anything, I hope you’ll be surprise when you read it. Gue tau banget cerita dan tulisan di blog gue ini sebagian pasti akan ga penting isinya, however, i really hope all of you can enjoy it.


Sincerely :)