November 30, 2010

back to december

Dan akhirnya tiba sudah di titik akhir november. Besok sudah desember lagi. Jadi walau capek, bosan, letih, jenuh, encok, pegel, linu, lesu, loyo, dan perasaan makin menua belakangan ini, mendadak gue dibanjiri perasaan gembira.

Bukan karena sekeliling gue gembira maka gue jadi senang. Apanya yang sekeliling gembira, orang lagi pada sibuk setengah mati ngurusin jadwal semester depan. Ngurusin jadwal kuliah anak-anak, jadwal sidang tugas akhir, jadwal sidang riset desain, jadwal pembimbing, jadwal kelas, segala jenis jadwal yang variasinya jauh lebih banyak dari jenis coklat di toko coklat. Belom ditambah urusan laporan ini itu, ibaratnya mendadak semua hal punya deadlinenya. Terus ditambah persiapan ujian akhir anak-anak. Utang nilai. Tetek bengek ini itu.

Astaga, rasanya kalau sekarang ada yang bilang jadi pengajar itu mudah bakalan gue ajak tuker kerjaan sementara deh. Atau gue ajak berantem. Atau gue injek kakinya keras-keras pake heels runcing. Salah satunya pokoknya.

Tapi tetep seneng aja kalo deket desember. Lepas dari seneng bakal gajian plus thr sebelon libur. Lepas dari seneng satu masa udah lewat. Lepas dari segala pernak-pernik natal berwarna-warni yang sangat cantik yang meringankan suasana hati. Lepas dari bakal libur agak panjang. Terutama menyangkut bakal libur agak panjang.

Asli di benak gue penuh sama rencana yang bakal gue lakuin desember ini. Seperti yang gue tulis di tulisan gue yang ini, pokoknya semua rencana itu insya tuhan bakal gue lakuin. Ditambah beberapa hal lainnya. Tanpa peduli desember itu cuman 30 hari, gue udah nyiapin 300 rencana di benak gue.

Rasanya gak sabar deh. Gue bahkan gak peduli kalau pergantian tahun artinya mendekatkan diri pada penuaan usia. Kayaknya sekarang gue paham deh kenapa salju warnanya putih, kayaknya desember itu bulan penyucian diri. Semuanya balik ke pure lagi, se-pure salju yang jatuh (bahkan efeknya berasa di Indonesia yang jelas-jelas gak saljuan). Bahkan ketika kekesalan udah dipuncak, tarik nafas hembuskan sekali aja udah bikin gue mikir ‘yasudahlah’. Efek natal lebih manjur dari ilmu psikologi manapun kalo buat gue.

Dan akhir-akhirnya, selain senang, rasanya ini adalah saat yang tepat buat refleksi dan syukur. Syukur gue udah bisa hampir survive di keseluruhan tahun ini dengan baik. Skala satu sampe sepuluh, nilai gue itu delapan karena nilai sembilan buat dosen dan nilai sepuluh buat Tuhan (katanya). Eh tunggu, gue kan dosen, artinya nilai gue 9 buat taun ini haha!

Anyway, thanks for everything!

xoxo

November 12, 2010

Obama di Hari Pahlawan

Kemarin tepat tanggal 10 November negara kita merayakan peringatan Hari Pahlawan. Anehnya, sepertinya sudah jarang ada yang mengingat mengenai peringatan semacam ini. Buktinya kalau melihat timeline facebook dan twitter di hari itu, isi beritanya melulu mengenai Obama. Obama begini, Obama begitu. Pujian, kekaguman, membandingkan segala ini dan itu tentang Obama.

Bukannya apa, Obama pasti hebat, saya yakin. Namanya juga presiden Amerika Serikat, The United States of America, negara super power yang paling berkuasa di dunia (katanya). Bukan suatu hal yang luar biasa kalau Obama ternyata bisa membuat kagum orang Indonesia, come on, dia berhasil memenangkan suara di pemilu Amerika, tentu karismanya melebihi manusia biasa. Wajar lah kalau kita terkagum-kagum ama karisma dia.

Yang lucu itu celetukan-celetukan gak penting macam, ‘coba presiden kita kayak dia’ atau ‘coba bandingin sama pemerintah kita’. Baca celetukan kayak gitu bikin saya ingat pada kata-kata terkenal salah satu mantan presiden yang juga berasal dari Amerika Serikat, John F. Kennedy, dalam salah satu pidatonya.
And so, my fellow Americans, ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country
Kalo dibalik ke diri sendiri, kira-kira kata-katanya menjadi seperti ini, ‘jadi bangsa Indonesia, apa yang sudah kamu lakukan untuk bangsamu?’

Misalnya sudah bayar pajak belum? Atau malah bilang, ‘Paling pajaknya dikorupsi’. Dikorupsi atau enggak kan tetap adalah kewajiban anda untuk membayar. Kalau tidak bayar artinya anda semua juga koruptor dong. Lagipula, hanya karena orang lain melakukan kesalahan kenapa anda semua juga harus ikutan salah? Kalau dana yang anda bayarkan dikorupsi, biarlah itu menjadi dosa mereka saja kan.

Contoh lainnya lagi, misalnya makian terhadap pemerintah soal macet. Peraturan tata kota Jakarta mungkin memang agak kacau, tapi sebagai rakyat bukannya kita membantu menambah kekacauan itu? Mobil seorang satu, akibatnya macet. Buang sampah sembarangan, akibatnya banjir, dan tentunya macet. Penghilangan penghijauan (bahkan pada rumah tinggal sekalipun) akibatnya juga banjir dan tentu hasilnya macet. Wajar dong kalau akibat dari semua kesalahan kita bersama menumpuk jadi satu dan muncul sekarang.

Lagipula saya yakin kalau presiden kita adalah presiden yang capable sekali. Masalahnya cuma masalah di Indonesia tuh terlalu banyak dan rumit. Bayangkan saja, sekali menjabat dia harus menyelesaikan masalah transportasi (macet, banjir, apapun), bencana alam bertubi-tubi, perang suku, masalah perpecahan keagamaan, masalah penting lainnya, masalah gak penting lainnya, dan yang paling memusingkan dan selalu ada tentu adalah masalah ekonomi.

Apa gak pusing tuh jadi seorang presiden? Belum tentu kalau Obama diletakkan di kursi kepemimpinan Indonesia maka dia bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Indonesia. Kalau begitu kan ngapain membandingkan? Coba sedikit saja menumbuhkan rasa nasionalisme. Atau kalau tidak bisa menumbuhkan nasionalisme, ya coba distop keluhannya. Kritik boleh, tapi sejajar dong sama tindakannya.

Maybe our life will be easier if we stop complaining and start to make the best of it.

November 8, 2010

Another Study Tour – To visit an exhibition by the great Entang Wiharso

Tanpa melebih-lebihkan apa yang saya lihat. Sebuah karya seni, bahkan bagi para orang awam sekalipun, jika berhasil menyampaikan emosi dan ceritanya maka karya tersebut adalah karya yang luar biasa. Pada sebagian besar karya seni di dunia, karya yang dapat bertahan untuk dikenang sepanjang masa adalah karya yang meninggalkan kesan mendalam, tanpa peduli bahwa penikmatnya adalah seorang ahli atau seorang awam. Faktanya, tergugah adalah tergugah.

Itu adalah apa yang saya rasakan ketika melihat pameran Entang Wiharso di Galeri Nasional yang bertajuk Love Me or Die. Seumur hidup, galeri lukisan yang pernah saya datangi hanyalah Museum Affandi di Yogyakarta, dan saat itu saya baru berumur tidak lebih dari lima belas tahun. Pengertian yang sangat kurang dan belum adanya apresiasi terhadap suatu karya seni membuat perjalanan itu sebetulnya sia-sia bagi saya (walau pada faktanya saya tetap terkagum-kagum melihat kekayaan lukisan yang bahkan tidak dapat saya baca bentuknya itu). Jika sekarang diberi kesempatan, maka saya akan dengan senang hati menikmati karya Affandi dan menyiapkan diri saya untuk terkagum-kagum lagi.

Tetapi kali ini berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa saat ini saya adalah ahli dalam bidang seni lukis dan sejenisnya. Saya bahkan tidak bisa membedakan antara kubisme atau abstrak atau surealisme. Justru karena saya bukan ahli maka saya dapat menilai karya Entang Wiharso dengan apresiasi tinggi. Bahkan saya yang tidak mengerti seni bisa merasakan emosi yang ingin ia sampaikan. Hebat. Perasaan yang timbul ketika saya melihat karyanya tidak setengah-setengah. Ketika jijik, saya jijik sepenuhnya. Ketika lucu, saya merasa geli sepenuhnya. Dan tentunya ketika kagum, saya kagum sepenuhnya.

Ajaran yang saya dapatkan hari itu sangat berharga. Untuk menikmati sebuah karya seni, kita harus memahami konteksnya terlebih dahulu. Sebuah konteks adalah kacamata yang akan menuntun kita untuk membaca apa yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. Tanpa kacamata itu, maka kita akan merasa kehilangan arah.

Bravo untuk orang-orang yang bisa berkarya dengan jujur dan bisa menyampaikan isi hatinya melalui karyanya.

Note: Sengaja tidak memasukkan gambar ke dalam tulisan ini. Melihat sebuah karya melalui gambar menghasilkan perasaan yang berbeda dengan melihatnya secara langsung. Semoga rasa penasaran membuat kalian pergi melihatnya.

November 4, 2010

Identitas versus Perubahan

Kultur, atau budaya, adalah salah satu hal yang paling sering menjadi korban dalam sejarah perkembangan manusia dari jaman ke jaman. Bicara mengenai tradisi, akar silsilah, kepercayaan, mitos, legenda, identitas, serta hal-hal lainnya yang sangat bertolak belakang dengan perubahan. Terkadang perubahan itu baik. Pada saat lainnya, perubahan itu lancang dan kejam.

Melahirkan dan membesarkan sebuah budaya memerlukan generasi, bukan merupakan pekerjaan Sangkuriang yang terjadi dalam semalam saja. Mematikan sebuah budaya, di sisi lainnya, hanya memerlukan waktu beberapa jam saja. Contohnya revolusi Perancis, letusan Gunung Vesuvius di kota Pompeii, runtuhnya Menara Babel, tenggelamnya kapal Titanic, hilangnya Benua Atlantis, reformasi 98, sebutlah banyak kejadiaan lainnya. Semudah itu menghilangkan sebuah identitas dan menggantinya dengan yang baru.

Masalahnya, kebanyakan budaya pada akhirnya tidak memiliki jejak peninggalan bagi generasi berikutnya. Memang ada beberapa peninggalan signifikan seperti bangunan, prasasti, makam, reruntuhan, dan sisa-sisa lainnya. Akan tetapi seringnya peninggalan tersebut tidak bisa banyak berbicara, atau bahkan diharapkan tidak berbicara banyak. Sulit sekali mencari akar dari sebuah tradisi, terutama tradisi yang sudah punah. Sisa-sisa pembelaan dirinya sangat kecil suaranya sehingga tidak terdengar sama sekali.

Mungkin itu egoisme manusia, coba bayangkan anda menjadi penguasa baru yang ingin membawa udara baru. Tentu anda akan berusaha untuk menghapus jejak-jejak penguasa lama tersebut bukan? Manusiawi dan wajar, tetapi disitulah sisi kejamnya. Demi mencapai sebuah kemajuan, sebuah kehidupan yang diharapkan menjadi lebih baik, maka manusia harus mengorbankan sesuatu, dan biasanya sesuatu itu adalah identitas. Dan itu benar terjadi, bahkan legenda masa lalu saja sudah menyadari fakta ini. Lihat saja cerita Malin Kundang yang kaya raya menolak ibunya yang melarat karena malu. Kehidupan yang lebih baik memang seperti narkotik bagi kaum yang mengejar kemuliaan.

Bangsa kita di satu sisi, merupakan sebuah bangsa yang ingin menuju ke arah sana, tetapi masih tetap berpegang pada kebanggaan terhadap masa lalu. Bangsa ini terjepit diantara dua hal yang ingin dipegang sekaligus secara bersamaan. Satu adalah identitas, dan satunya adalah bayangan akan utopia. Bagi bangsa yang dikaruniai dengan kebanggaan akan ribuan budaya, bangsa ini seperti bingung akan budaya mana yang mau dipertahankan atau ditonjolkan. Akibatnya malah akhirnya semuanya diabaikan sampai ke titik dimana bangsa lain, yang sudah tidak memiliki identitas, mencoba untuk mengambil salah satu identitas tersebut, barulah sentakan amarah seperti mengingatkan kembali kepada masyarakat akan budaya yang terabaikan.

Perkembangan memang meninggalkan sisa-sisa kenangan identitas. Bangunan beridentitas masa lalu ditengah ribuan bangunan tanpa identitas, seperti seorang kakek atau nenek yang hidup dikelilingi cucunya. Bersama, tapi diabaikan. Hadir, tapi tidak hadir. Mereka berteriak dengan keasingannya, menggeliat menunjukkan dirinya, tetapi suaranya tidak didengarkan.

Ditinggalkan, nasib dari sesuatu yang dianggap tua, yang dianggap tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan perbedaan. Perubahan itu baik, tetapi selalu memakan korban.

Buktinya ada pada diri kita masing-masing. Apakah anda tahu identitas anda?

November 3, 2010

Wishes list for this year!

Mendadak gue pengen banget ngomongin tentang hal yang ingin dilakukan tapi belon kesampaian. Itu sepertinya topik yang cocok buat menyegarkan pikiran yang sudah capek dan butek karena dipake kerja sepanjang taun. Waktunya tepat sekali, karena tanpa sadar tau-tau udah bulan November aja gitu. Merem melek dikit juga udah abis taun 2010 yang fenomenal ini. Padahal kayaknya gue belon ngapa-ngapain! Masih banyak keinginan yang cuma jadi cita-cita semata. Lagipula katanya manusia perlu punya semacam wish list biar ada semangat untuk berusaha. Jadi demi semangat berjuang gue, inilah wish list untuk sisa hari di 2010 ini. Isinya lima aja kali ya, kebanyakan keinginan juga gak baik kayaknya. Wishes list gue sampai akhir taun ini adalah:

1. Gue pengen ke Carita. Sebenernya gue pengen ke pantai sih. Berhubung Pantai Mutiara dan Ancol gak bisa memuaskan dahaga gue akan pantai, dan Bali’s too faraway for now dan Bali itu jatah hura-hura taun depan bareng ibu-ibu arisan, maka jatuhlah pilihan ke Carita. Dan karena itulah gue ribuan kali berdoa demi tidak meletusnya si Anak (atau Cucu atau Cicit sih?) Krakatau, karena gue pengen ke sana sebelon taun ini abis. Please, please berhenti dong pergerakan lempeng bumi biar ga ada gunung yang meletus lagi.

2. Gue pengen piknik. I’ve found the perfect place. I’ve had the perfect partner. The problem is to find the event. Gue udah gak sabar buat nyiapin pernak-pernik piknik kayak taplak kotak-kotak merah putih, tikar, keranjang rotan, the right food, the right drink, summer dress, wedges…(loh kok jadi ngaco?). Pokoknya, begitu ada waktu santai dan cuaca baik, let’s picnic!

3. Gue pengen pergi berkelana keluar kota (dan maksudnya keluar kota itu yang agak jauh), kayak tamasya kecil-kecilan while driving my own car, yay! It is exciting, isn’t it, isn’t it? All the freedom, it’s like having a power about your own fate. Hahaha okay, that’s too much. Intinya gue pengen liburan sih arghhhh…

4. Gue pengen makan makanan India. Aneh ya? Mungkin lo bakal bilang, ‘makan aja susah amat sih.’ Tapi buat gue memutuskan buat makanan India adalah keputusan yang besar dan perlu dipertimbangkan masak-masak. Pasalnya, gosipnya makanan India tuh super pedes dan baunya nyengat. Dan gue gak bisa makan pedes, sama sekali. Menyedihkan. But I really want to try it. So, sebelon taun ini abis, gue bakal pergi ke restoran India dan makan makanan ala India. And if you read this, boyfriend, yes, you, you’re going to accompany me! Ha! I know you hate curry, but of course you are not going to let me eat alone in the middle of Indian resto, right? *winkwink*

Okay, now I’m stuck. At least I need to decide one wish to do before this year’s over. And I couldn’t decide which wish to do. Maybe costume party? Or maybe get drunk? Or sexy red high heels? Erghhh I can’t decide what I want most for this year. Kebanyakan mau sih! Don’t worry, my blog, I owe you one thing to do!

Andddd aaahhhhh! I think I’ve found it! My last wish for this year! Dan pilihannya jatuh kepada…

5. Gue mau ngehias pohon natal! Heahahahaa, I know that’s weird. Tapi faktanya, dari kecil, gue gak pernah ngehias pohon natal. Dan sumpah gue pengen banget ngehias pohon natal. Atau seenggaknya ngebantu orang ngehias pohon natal. Atau ada di ruangan dimana orang lagi ngehias pohon natal. Bahkan ngelihat dari jangkauan 5 meter aja udah cukup buat gue (sementara). Ini kayak obsesi masa kecil yang gak kesampean. Tiap tahun kalau udah mau natal, gue selalu obsesi sama toko yang ngejual dekorasi natal. Gue bisa berdiri berjam-jam sambil senyum-senyum ngelus si hiasan natal yang dijual disana. Mungkin gampang lo bilang ‘beli aja susah amat sih’ tapi budaya pohon natal emang gak pernah ada di rumah gue. Dan kalo beli sendiri paling gue bisanya beli yang kecil (because that christmas tree and the decorations is so damn expensive). Padahal gue pengennya yang gede gitu, arghh christmas tree is so beautiful.

Okay, melenceng. Intinya, kira-kira itulah keinginan terpendam gue yang semoga bisa gue lakuin semuanya sebelon tahun ini berakhir. I’m so excited to do all of those things. And I’ll tell you the story about all of it later whether I success or not to do all of those things.

Brb, loves!

Stressful Wedding

Lately, talking about wedding and married with my friend is kinda exciting, plus confusing. Yeah, wedding can be quite stressful. Imagine that you need to prepare one big ceremony and one big party for once in a lifetime plus you need to prepare your mental. You need to think about the day and thousand problems in it. You need to think about a place to live after that. You need to think about your parents. You need to think about family, because you’re going to combine two family (big or no). And the most stressful of all, you need to think about your adaptation and obligation.

Despite what do you think, I always think that family matter most in a wedding. Because when you marry, you also marry the family. If they’re not going well together, your life will be a hell. Well, maybe I’m exaggerating. Maybe not in hell, but at least you’re going to be miserable enough.

As a Chinese, usually we always have an extra big family. All of them want to know everything and all of them want to help anything. The problem is, too much info and help won’t do any good at all, not in your wedding, not in your marriage.

If we compare ourself to westerners, maybe some of their culture makes good senses. Example, westerners usually life separated with their parents, right after they’re mature enough. That means they’re independent enough to live separate with their parents. That means that they don’t have to worry much about parents in their married life, at least at early married life. I’m not saying that parents are disturbing, not that. I mean, married lives need some adaptation for both husband and wife, not to talk about adaptation for parents. Living together with parents under one roof means too much husbands or too much wives. It’s hard enough to adapting your partner, not to say about parents or someone else.

Another example, westerners tend to live together before they’re getting married. It helps a lot for adapting the habits. At least after that there won’t be much surprise for both of them.

I’m not saying that ‘this is right’ or ‘this is wrong’ okay. Some of eastern culture thinks that western culture is absurd, and vice versa of course. I’m not giving opinion, just comparing some facts based on western and eastern culture. About which culture you’re going to choose, that’s your problem. I believe everyone have their own way and their own beliefs.

Just remember one thing, no matter how stressful your wedding preparation is, you need to enjoy it. It’s happen only once in a lifetime (I hope). And I believe that we need to build the connection and we need to walk the memory, so you’ll have something to remember and something to hold on for the rest of your life.

Happy loving!

November 1, 2010

Keterbatasan Berbahasa

Kalau dikatakan bahwa masalah di dunia ini semua bermula dari bahasa maka itu sangat masuk akal. Manusia memang diciptakan secitra dengan penciptanya, tentu saja tetap memiliki keterbatasan jika dibandingkan dengan kehebatan sang pencipta. Kalau dalam alkitab agama kristiani, masalah bahasa yang paling terkenal pastinya kisah menara Babel. Disana diceritakan bahwa karena manusia tamak dan berusaha mendekati Tuhan dengan caranya sendiri maka marahlah Tuhan dan menghukum manusia dengan memberikan bahasa yang beraneka ragam sehingga mereka tidak dapat memahami satu sama lainnya.

Karena Tuhan adalah sang maha bijak dan maha hebat maka Dia pasti memiliki bahasa yang jauh lebih kompleks dan rumit dibanding manusia. Sebetulnya hanya seperti menjentikkan jari saja maka dalam sepersekian detik Tuhan bisa mentransfer pikriannya ke pikiran manusia. Sayangnya manusia bahasanya terlalu terbatas untuk memahami apa yang disampaikan oleh Tuhan. Mungkin karena itulah Tuhan selalu menggunakan simbol atau tanda tertentu dalam berbicara dengan manusia. Contohnya perjanjian Tuhan dengan Nuh yang berwujud pelangi atau janji Tuhan yang diwujudkan dalam mengirim Yesus, putranya ke bumi untuk menebus dosa manusia. Pejanjian Tuhan sering tidak menggunakan bahasa manusia tetapi berwujud symbol. Bahkan kisah di alkitab menggunakan banyak sekali perumpamaan yang mungkin terkesan membingungkan.

Padahal kalau dipikir-pikir, kenapa Tuhan harus membuat bahasa yang rumit di alkitab? Manusia yang membacanya kan bisa punya interpretasi masing-masing dan pesan yang disampaikan akan hilang dalam kesalahpahaman. Tetapi kalau melihat masalah bahasa pada diri manusia maka logis sekali alasan penggunaan simbol dan tanda di alkitab tersebut. Alasannya mungkin semata supaya alkitab dapat dibaca di jaman apapun tanpa perlu kehilangan pesan sebenarnya. Itu dengan catatan kalau manusia yang membacanya bisa memecahkan kode yang terkandung di dalamnya. Sama seperti peta harta karun, harus ada kunci yang bisa digunakan supaya pembacanya bisa mengerti maksudnya.

Bila benar masalah duniawi adalah bahasa, maka wajar saja kalau dalam hubungan antar manusia sering terjadi kesalahpahaman berkomunikasi. Sering ada pepatah yang mengatakan ‘andai hati terbuat dari kaca dan bisa dikeluarkan supaya orang bisa melihat isinya yang sesungguhnya.’ Sepertinya memang manusia harus berusaha lebih keras dalam menyampaikan isi hatinya demi mecegah kesalahpahaman berkomunikasi.