June 30, 2010

rainbow

I call it my personal torture chamber, where I usually transform my nothing to rainbow or transform my rainbow to nothing. When nothing’s there, it’s white, neutral, the mix-ation of all color exist. Only white, luminescent white. Nothing, bright nothing.

I create my scene there, or truthfully, the scene created automatically, based on what’s there on my mind. Some black and white painting. Some charcoal. Some pastels. Some colorful bold. Some washed. Some anything.


A blink of gloom and it’s become a monochrome ambiance painting in charcoal. A blink of rush and it’s become a glossy red. A blink of glam and it’s glittering itself.

And here, now, when the white transform itself become a big colorful rainbow and I’m standing in the middle of it, enjoying the sensation of changing ambiance. It’s like watching boxes of candies in the candy store or seeing through the window display of a gelato bar.

Here when a blink of happiness and it’s become an indescribable sweetness.

Damn, it’s sweet.

June 29, 2010

emansipasi, samakan hak tapi bedakan kewajiban

Emansipasi wanita, sebuah konsep dimana gender wanita mau berdiri disejajarkan dengan gender pria. Tentu dengan maksud untuk menyamakan hak dan kewajiban. Ide itu baik, tentu, karena semua manusia pada dasarnya sama dimata Tuhan. Apalagi ide ini keluar dari pemberontakan terhadap paradigma lama yang selalu menempatkan wanita dibawah pria sejak jaman dahulu kala.

Untuk hak, oke, mungkin itu bisa disamakan. Hak dalam mendapat pendidikan, hak untuk mendapat pekerjaan dan gaji yang setara, hak untuk menyatakan pendapatnya. Pada jaman modern seperti sekarang ini sudah tidak aneh lagi melihat wanita yang duduk diatas kursi dengan jabatan tinggi. Bahkan banyak negara di dunia yang dipimpin oleh seorang wanita. Dalam hal hak, lebih mudah untuk menyetarakan pria dan wanita.



Dalam hal kewajiban, mungkin akan lebih susah. Karena mari blak-blakan saja, susah menyetarakan kewajiban pria dan wanita. Contohnya dalam rumah tangga, bagaimana mungkin menyamakan ayah dan ibu. Sudah jelas adanya bahwa ayah bertugas sebagai kepala keluarga, menafkahi keluarganya dan melindungi keluarganya dalam kondisi apapun. Dan sudah jelas bahwa ibu bertugas sebagai penyambung dan penopang keluarga, mengayomi keluarganya dan memastikan lancarnya jalannya rumah tangga. Sama seperti kodrat bahwa tanpa wanita, pria tidak punya tempat untuk mengandung anaknya dan tanpa pria, wanita tidak mungkin bisa membuahi sel telurnya sendiri.

Sama seperti dalam dunia kerja, bagaimana menyamakan kewajiban wanita, sedangkan wanita selalu minta diberikan perlakuan khusus, seperti jatah cuti sehari setiap bulan hanya untuk menstruasi, jatah cuti tiga bulan untuk melahirkan. Belum lagi resiko kalau menikah, banyak wanita yang memutuskan untuk berhenti kerja dan mengikuti suami. Hal-hal seperti itu yang selalu meletakkan posisi wanita dibawah pria dalam dunia kerja. Wajar, tapi bukan berarti benar jika diterapkan dalam masa sekarang ini.

Buat saya, emansipasi itu baik, jika konteks pembicaraannya menyangkut kasus perendahan martabat wanita yang berlebihan di jaman dulu. Tapi kalau dalam jaman modern seperti sekarang ini, wanita memang sebaiknya diberi kesempatan untuk mendapatkan hak yang setara dalam pekerjaan, pendidikan, atau hak-hak asasi lainnya. Idealnya memang wanita tetap diberi kesempatan yang sama dengan pria, karena banyak juga wanita yang kecerdasannya setara dengan pria dan dedikasinya dalam pekerjaan juga setara dengan pria.



Asal jangan lalu muncul wanita-wanita yang lupa statusnya sendiri. Wanita, sudah kodratnya untuk memenuhi panggilan sebagai wanita, beberapa area yang tidak bisa dijajaki oleh pria. Jangan sampai saking asyiknya menyetarakan diri dengan kaum pria lalu melupakan kodrat utamanya sebagai wanita. Dan juga wanita jangan lupa untuk tidak sampai melangkahi garis batas pria, mengambil apa yang sudah menjadi hak dan kewajiban pria. Intinya seimbang sajalah.

Emansipasi itu baik, akan tetapi kalau boleh jujur, sebagai seorang wanita, saya tetap menyukai kondisi dimana wanita adalah suatu ciptaan yang perlu dilindungi oleh pria. Boleh diberi hak bangkit sendiri, tetapi alangkah baiknya jika ada seorang pria yang berdiri disamping saya dan mengulurkan tangan untuk membantu berdiri. Boleh membawa mobil sendiri, tetapi alangkah baiknya kalau ada pria yang duduk dibagian penyetir. Boleh duduk di kursi penumpang, tetapi alangkah baiknya kalau ada pria yang bersedia membukakan pintu ketika turun. Boleh membawa barang sendiri akan tetapi senang sekali kalau ada pria yang bersedia membantu membawakan.

Bagi saya, boleh menjadi seorang wanita kuat yang independent, tetapi ternyata tetap menyenangkan ketika ada seorang pria yang dengan posesifnya menganggap saya properti miliknya. My girl, panggilan yang tentu akan ditepis jauh-jauh oleh kaum feminis sedunia, karena panggilan tersebut adalah panggilan yang menempatkan saya sebagai wanita dengan posisi sebagai sebuah properti milik seorang pria. My girl, panggilan yang menempatkan saya dibawah seorang pria yang seharusnya berdiri sejajar dengan saya. My girl, panggilan yang saya terima dengan senang hati dan jelas membuat saya tersenyum sepanjang hari dan hari berikutnya dan hari berikutnya lagi. My girl, panggilan yang hanya seorang pria saya ijinkan untuk memanggil saya demikian.

Jadi, kalau buat saya, emansipasi itu baik. Emansipasi itu seperti semburan angin dingin buat wanita yang ingin lepas dari jajahan paradigma kolot. Tapi tetap saja, ada area-area tertentu yang memang sudah merupakan kodratnya pria dan ada area-area tertentu yang sudah merupakan kodrat wanita.

Intinya, emansipasi, samakan hak tapi bedakan kewajiban.

June 20, 2010

Today


is perfect. It's like a dream but somehow it's real. You're my dream, but you're real.

And if this happiness is mine to share, then i promise to make you smile in every today.

yours :)

June 17, 2010

namanya juga manusia

Manusia, termasuk saya tentunya, sering sekali lupa dimana tempatnya berdiri sekarang. Suatu gejala yang wajar mengingat bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal budi (kalau semua pikiran manis dan pahit di dalam otak bisa disebut akal budi) di muka bumi ini. Sesuatu yang wajar, wajar dalam arti alibi atau penjeneralisasian sesuatu yang bahkan manusia yang memiliki akal budi ini tidak bisa dengan pasti menyatakan benar atau tidaknya.

Apa karena manusia sudah demikian lamanya menguasai bumi ini tanpa ada campur tangan makhluk lain apapun sehingga terkadang manusia suka lupa bahwa manusia ini hanyalah ciptaan. Atau karena sudah merasa begitu hebatnya sehingga lupa akan keberadaan kuasa yang lebih tinggi lagi dari manusia? Iya dong hebat, bisa menciptakan alat untuk keluar dari garasi bumi, menciptakan senjata yang bisa menghancurkan pulau beserta isinya dalam sekali tekan, menciptakan alat yang nyaris bisa berpikir sendiri. Mana tahu dalam jangka mingguan atau tahunan lagi manusia sudah bisa membuat mesin yang benar-benar bisa berpikir sendiri seperti manusia. Mengerikan bukan kehebatan otak manusia jika digunakan sepenuhnya?

Makanya tidak heran kalau terkadang manusia suka lupa akan posisinya sebagai ciptaan, mulai menuhankan diri, padahal Tuhan cukup ada satu diatas sana. Mulai merasa hebat sehingga bisa menentukan hidup matinya nyawa lain (lihat saja kenaikan angka aborsi atau pembunuhan di dunia). Mulai merasa hebat bisa menentukan benar atau salah di dunia. Mulai merasa benar bisa menyatakan apakah si A beriman atau tidak. Mulai merasa hebat bisa menentukan kehidupan orang lain. Mulai merasa hebat menyatakan bahwa perbuatan ini dosa dan itu tidak. Mulai merasa hebat sehingga setiap hari sibuk mengomentari dosa ini dan dosa itu.

Contohnya banyak sekali di kehidupan sehari-hari, terutama di bumi Indonesia tercinta ini. Belakangan ini topic yang paling marak dibicarakan adalah kasus artis ibukota AP-LM-CT (males ngetiknya jadi disingkat aja yaa). Mendadak semua ahli keluar untuk mengomentari, dari pemuka agama sampai rekan seprofesi, dari kaum ibukota sampai penduduk pinggiran. Komennya dari yang simple seperti ketawa malu sampai komentar mengenai moral ketiga oknum (seperti dirinya orang yang paling sempurna di dunia saja). Oke, saya juga gak boleh komen sembarangan. Tapi jujur bosen juga mendengar berita tentang ketiga orang itu, padahal topiknya cuma sepenggal tapi gak selesai-selesai ngomonginnya. Come on, people, have a pity on them. Toh yang lainnya juga bukan sesuci itu, cuma bedanya gak direkam dan atau gak diaplot ke dunia aja.

Atau contoh lainnya dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali mendengar celetukan gak enak kalau sedang membicarakan mengenai seseorang yang kurang disukai. Lepas dari orang yang kita kenal atau bahkan yang gak kita kenal. Jika ada teman preman atau koruptor asing yang mati mengenaskan, komen yang akan keluar adalah, ‘Sukurin, udah sepantesnya. Dosa sih, makanya begitu.’ Hebat bukan, kok bisa juga manusia menentukan itu pantes apa bukan, itu dosa apa bukan. Kan manusia bukan Tuhan, bukan?

Kalau buat urusan ini, mending jadi golongan putih aja deh, pilih no comment, soalnya jangan-jangan saya sendiri juga lebih parah dari itu. Kalau udah begitu, cuma bisa sekali-sekali menyendiri menghadap Tuhan dan meminta ampun. Ampun Tuhan buat semua kekurangajaran saya melangkahi batas-Mu. Mungkin diatas sana Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran, sambil berbicara kepada archangel disekitarnya, ‘Yah, namanya juga manusia.’

Namanya juga manusia, tempatnya salah dan dosa.

June 16, 2010

let’s dance this life

People, just to remind you, the purpose of this life is to bring us down. It’s a matter of choice whether we choose to stay down or get up after that. We always thought that we’re the most miserable people in the world. It is human nature to feel that way, but the truth is, you’re not alone. Others are miserable too and others are break down too. When you sad, others have a sad time too. When you down, others have a down time too. We’re not alone.

Don’t you dare to think that you’re the only one who lost, that God is never fair, that others are always better than yourself. I know that the grass is always greener on the other side, but yours is still green too, right? You are not that ‘special’ to be the one who always get the trouble because He always treats us all the same.

You may do whine, you may do regret, you may cry, you may break down, but don’t forget to shed your tears after that. Don’t forget to get up. Lift your chin up and walk proudly. You can tell other about your problem, you can share it, but don’t live from other’s pity and sympathy, moreover from self pity. Don’t drenched yourself from all the attention, you’ll get addict to it. And it’s hard to get up when you’re addicted to it.

Someone told me that we, human, are mean to get a big dose of trouble time but we get it seldom, and we are mean to get a little dose of happiness but we get it often. If life shows you one reason to cry, show it hundred reasons to smile. Because when you have a reason for crying, you must have another reason to smile.

As long as the sky's above you and the earth's under you, what to worry then? When we fall, we could always get up. When we hurt, it will always heal someday. And the most important things, there’s always someone there to help you up, you just never realize that they exist, right there waiting for you to open your heart for them.


So, people, when you break down, cry for it, scream it, pour it out, and then don’t forget to look up. Look up and open yourself, because there’s a whole world out there waiting for you. Open yourself, accept what the world already give, and start to live again. Just dance through your life bravely, come dance through it. Because people, He wouldn’t give anything we couldn’t handle.

So let’s dance this life beautifully.

one smile for D'Cost

Bulan-bulan belakangan ini restoran D’Cost Seafood mengeluarkan system promosi yang cukup unik. Selama sebulan, di cabang tertendu pada hari tertentu kita bisa makan disana dan mendapatkan diskon sebesar umur kita di KTP (satu KTP terbatas untuk sekian orang). Contohnya yaitu di Serpong (tepatnya di Ocean Park BSD), promosi itu dikhususkan pada bulan Juni setiap hari selasa. Dan maksudnya diskon itu betul-betul diskon, tanpa perlu ada syarat atau embel-embel apapun selain membawa KTP dan orang pemilik KTP tersebut.

Kekurangan system ini adalah pertama, pasti terpikir betapa ruginya restoran ini, coba bayangkan jika kita membawa manula yang umurnya diatas 70 tahun. Kedua, lupakan makan dalam ketenangan jika promosi ini diadakan, karena daftar waiting list-nya menumpuk dan jumlah orang-orang yang mengantri di pintu banyak sekali. Apalagi restoran semacam ini memang biasanya didatangi oleh keluarga yang jumlahnya minimal 4 orang sampai 10 orang atau bahkan lebih. Terbayang, kan, sesaknya? Ketiga, terlihat beberapa keluarga yang dengan niatnya tega membawa kakek atau nenek yang bahkan sudah duduk di kursi roda dan lemas, hanya demi mendapatkan diskon, untuk berdesak-desakan dan makan di tempat yang cukup ramai tersebut.

Akan tetapi, semua kekurangan tersebut tertutupi dengan satu keunggulan promosi ini. Kelebihan promosi ini adalah melihat betapa system ini bisa memberikan senyuman kebahagiaan kepada banyak manula lainnya yang masih cukup sehat, yang mungkin sebelumnya tidak pernah diajak keluar untuk makan oleh keluarganya. System ini memberikan kesempatan kepada setiap keluarga untuk duduk bersama di meja yang sama dan melakukan acara makan bersama, mungkin sambil mengobrol atau bertukar cerita.

Yah, lepas dari pemandangan banyaknya kaum muda yang malah asyik dengan gadget-nya masing-masing dibanding melakukan interaksi dengan manusia lainnya di meja. Lepas dari pemandangan wajah-wajah yang tetap terlihat suram ketika melakukan acara makan tersebut. Lepas dari suasana ramai seperti pasar di ruangan. Lepas dari semua itu, sepertinya system promosi ini cukup brilliant, mengingat betapa banyaknya senyuman yang tercipta akibat adanya makan bersama ini.



Dan anyway, dalam setiap hal pasti selalu ada sisi baik dan buruk. Jika terus melihat sisi buruknya sampai kapanpun tidak akan ada hal yang cukup baik untuk diri kita. Jadi marilah kita melihat sisi baiknya, kelebihannya, dibanding menggali kekurangannya. And even if it’s just a one smile, that’s still enough to compensate all the lack. Have a good food with people you love, everyone!

Sincerely yours ;)

Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around. by: Leo Buscaglia

June 14, 2010

Your smile,

Brighten my day. Never realize that you have a killing smile like that. Maybe because you aren’t always show it to the world, that’s why I stuck in awe when I see it.

It’s like having my black and white life painted with your brilliant color. Goodness, I’m awe-struck.

Please do it again just for me, when we meet again.

June 11, 2010

epigraph

Human bodies are the greatest evidence, the living epigraph, of its own lives. Every wrinkle, every wound, every scratch, every smile, every tear, every spark in their eyes, every spirit in theirs voice, every this and that are the real prove, the true identity, the real each of you. Do we realize that our own body is telling stories about our past?

Look beyond the wrinkles in our grandmother’s face. Or scar in our father’s leg. Look beyond tears in our mother’s eyes. Or look beyond sparks in our beloved one when he talked about his life.

Try to look beyond the surface and see what’s inside, because maybe what’s hidden is the real person. Don’t let the appearance lie to you. Look closer. Hear each story from very evidence of life.

Because our body is the greatest epigraph of our own life.

June 7, 2010

reason

Do I need reason to be silly? Do I need reason to smile? Do I need reason to be happy for a second or two? Do I need the reason?

Do I need reason for you? Do I need reason to feel grateful for your presence in my life? Do I need reason to justify the frequency of your presence in my mind? Do I need the reason?

Do I need reason to feel comfortable to be with you? Do I need reason why I like to spend my time with you? Do I need reason why I want to spend my time with you? Do I need the reason?

Do I need the reason for you? You, yes you, the one who’s blowing my mind, slowly but sure, like warm spring winds which leave nice scent there for me. And before I realize it, the scent is already there in my mind, the scent is getting stronger everyday.

And believe me, it’s not because I can be with you. It’s not because I need you. It’s not because I want to be with you. It’s not because some stupid cheesy reason.

It’s because of you. Because it’s you. Believe me.

So, do I need reason at all? No, for now I don’t think I need any reason at all.

June 2, 2010

Hidup itu indah!

Awal Juni, bahkan sisa hawa Mei pun masih tercium lamat-lamat baunya, tertimpa oleh bau angin janji untuk musim berikutnya yang akan segera tiba. Seperti bau rerumputan basah setelah hujan yang tercampur bau sinar matahari yang terang setelahnya. Transisi musim, disinilah aku berada saat ini. Di waktu yang kusebut saat ini, suatu periodikal waktu antara sekian hingga sekian yang betul-betul merupakan saat ini.

Titik ini adalah titik dimana aku berhenti sejenak dari perjalanan, sambil berpikir, mau kearah mana sekarang. Tidak ada pilihan lain selain maju sebenarnya, akan tetapi maju itu kemana sebenarnya Tidak ada petunjuk arah dalam hidup. Sebenarnya aku manusia adalah buta. Aku berpikir bahwa aku melihat, tapi sebenarnya tidak. Aku melihat titik ini, tetapi sampai kapanpun aku tidak akan bisa melihat ke masa depan, dan sampai kapanpun aku hanya akan bisa melihat sisa masa lalu saja. Sejauh apa mata memandang, sesipit apa memicingkan mata, tentu jarak pandang yang ada hanyalah saat ini saja. Titik ini dimana aku berdiri sejenak untuk berpikir.


Sambil ngos-ngosan seperti habis berlari sangat jauh. Meninggalkan gumpalan kejadian kabur yang semakin lama semakin blur saja gambarnya. Semakin lama gumpalan berubah menjadi pecahan yang lalu berubah menjadi serpihan yang kemuduan berubah menjadi bulir pasir. Ya, hanya pasir, semua pasir-pasir pembentuk diri saat ini yang saking halusnya sampai bisa-bisa terlupakan oleh indera di badan. Lupa akan baunya. Lupa akan bentuknya. Lupa akan rasanya. Lupa akan suaranya. Halus sekali perpindahannya. Sehalus perpindahan waktu yang tidak pernah aku sadari sampai aku berhenti untuk merasa sejenak.

Sampai aku berhenti untuk merasa sejenak, sampai diri bisa menangkap pemandangan saat ini dengan lebih jelas lagi, sejelas foto yang diambil dengan kamera tercanggih yang sampai titik terkecilnya pun bisa diabadikan dalam sebuah gambar. Menangkap pemandangan saat ini yang ternyata begitu luar biasa sampai suasananya terasa di seluruh hati jiwa raga. Mungkin karena kuat rasanya sampai-sampai aku lupa akan rasa yang lama dan tidak bisa merasakan rasa yang akan datang. Pemandangan yang merasuk ke seluruh hati jiwa raga, fenomena ajaib yang hanya bisa dinikmati di titik ini saja. Saking kuatnya sampai terasa sedikit rasa menyesal, coba jika dari dulu mau memelankan langkah untuk merasakan fenomena saat itu, mungkin tidak akan secepat itu gumpalan berubah menjadi pasir. Yang sebenarnya merupakan pikiran yang percuma.

Dan sekarang setelah menyadari, setelah berhenti sejenak dan menemukan diri begitu menikmati rasa sekarang, lalu mendadak hati jiwa raga sadar, memang inilah yang harus dilakukan. Saat inilah yang harus dilakukan, bukan melakukan masa lalu atau melakukan masa depan. Saat ini yang seluruh getarannya terasa di sekujur hati jiwa raga memasuki relung dalam diri merambahi setiap sel-sel yang hidup. Seolah seperti menikmati makanan kesukaan saja, perlahan-lahan mengunyah sari demi sarinya. Seolah seperti menikmati musik terindah saja, getarannya melewati telinga dan merangsang emosi di saraf otak. Seolah seperti melihat pemandangan terindah disini, menikmati wajah yang tanpa sadar sudah ada di dalam diri. Seolah seperti mencium bau terharum yang pernah dicium, bahkan dengan baunya saja sudah bisa memberikan kebahagiaan tertinggi. Seolah seperti merasakan sentuhan tekstur ternyaman sepanjang hidup yang saking nyamannya tidak ingin melepaskan rasanya sebelum direguk sepuas-puasnya.

Dan mendadak menyadari sesuatu. Aku jatuh cinta, pada fenomena saat ini, fenomena yang rasanya sungguh kuat sekali sampai mengguncang hati jiwa dan raga, memenuhinya dengan emosi berwarna-warni layaknya karya terindah. Aku ingin merasakannya sampai puas, perasaan jatuh cinta pada fenomena ini. Rasanya seperti terbangun dari mati suri sekian lama dan menyadari bahwa dunia itu indah.

Sungguh hidup itu indah.

June 1, 2010

Don't Do Regret

Dear people, saying sorry is useless, except if you really mean it and say it from the deep of your heart. Sorry is a verb that depicts different kind of emotions and feelings. It can be sympathy, guilt, excuse, regret, or just a word without meaning at all. Don’t say sorry for nothing.

Dear people, you may say sorry for sympathy. Sorry in sympathy usually used to express our sadness for other who has been losing someone or something they hold dearly. In this case, even though you don’t actually mean it, at least your words can help in comforting the one who’s suffering.

Dear people, saying sorry for regret is unnecessary, except if you’re really feel sorry for it and step to the next level when you promise to yourself that you really won’t repeat your mistake again. It’s useless when you say sorry then keep repeating the same mistake again and again.

Dear people, promise is empty, except if you fulfill your words fully so it won’t be an empty word. Be careful people, because word is a promise and you need to fulfill it with your heart. If you don’t really mean it, then don’t say anything at all.

Dear people, guilt is wasting time, because you can’t turn back time. What you can do is just eat your guilt alone and live your life no matter how hard it feels. Maybe somewhere in the future you’ll find your forgiveness.

So people, don’t do anything you will regret tomorrow, because guilt is inside your heart and regret won’t return your past and sorry is just one step forward to unknown future. Deal with our own mistake, forgive ourselves first.

Because people, we make our own peace.

Sincerely :)

PS. For someone somewhere who live in regret, full word, half word, or empty word, it's just a game of life. Don't sweat a small stuff in life. Let go, let go, let go.