November 4, 2010

Identitas versus Perubahan

Kultur, atau budaya, adalah salah satu hal yang paling sering menjadi korban dalam sejarah perkembangan manusia dari jaman ke jaman. Bicara mengenai tradisi, akar silsilah, kepercayaan, mitos, legenda, identitas, serta hal-hal lainnya yang sangat bertolak belakang dengan perubahan. Terkadang perubahan itu baik. Pada saat lainnya, perubahan itu lancang dan kejam.

Melahirkan dan membesarkan sebuah budaya memerlukan generasi, bukan merupakan pekerjaan Sangkuriang yang terjadi dalam semalam saja. Mematikan sebuah budaya, di sisi lainnya, hanya memerlukan waktu beberapa jam saja. Contohnya revolusi Perancis, letusan Gunung Vesuvius di kota Pompeii, runtuhnya Menara Babel, tenggelamnya kapal Titanic, hilangnya Benua Atlantis, reformasi 98, sebutlah banyak kejadiaan lainnya. Semudah itu menghilangkan sebuah identitas dan menggantinya dengan yang baru.

Masalahnya, kebanyakan budaya pada akhirnya tidak memiliki jejak peninggalan bagi generasi berikutnya. Memang ada beberapa peninggalan signifikan seperti bangunan, prasasti, makam, reruntuhan, dan sisa-sisa lainnya. Akan tetapi seringnya peninggalan tersebut tidak bisa banyak berbicara, atau bahkan diharapkan tidak berbicara banyak. Sulit sekali mencari akar dari sebuah tradisi, terutama tradisi yang sudah punah. Sisa-sisa pembelaan dirinya sangat kecil suaranya sehingga tidak terdengar sama sekali.

Mungkin itu egoisme manusia, coba bayangkan anda menjadi penguasa baru yang ingin membawa udara baru. Tentu anda akan berusaha untuk menghapus jejak-jejak penguasa lama tersebut bukan? Manusiawi dan wajar, tetapi disitulah sisi kejamnya. Demi mencapai sebuah kemajuan, sebuah kehidupan yang diharapkan menjadi lebih baik, maka manusia harus mengorbankan sesuatu, dan biasanya sesuatu itu adalah identitas. Dan itu benar terjadi, bahkan legenda masa lalu saja sudah menyadari fakta ini. Lihat saja cerita Malin Kundang yang kaya raya menolak ibunya yang melarat karena malu. Kehidupan yang lebih baik memang seperti narkotik bagi kaum yang mengejar kemuliaan.

Bangsa kita di satu sisi, merupakan sebuah bangsa yang ingin menuju ke arah sana, tetapi masih tetap berpegang pada kebanggaan terhadap masa lalu. Bangsa ini terjepit diantara dua hal yang ingin dipegang sekaligus secara bersamaan. Satu adalah identitas, dan satunya adalah bayangan akan utopia. Bagi bangsa yang dikaruniai dengan kebanggaan akan ribuan budaya, bangsa ini seperti bingung akan budaya mana yang mau dipertahankan atau ditonjolkan. Akibatnya malah akhirnya semuanya diabaikan sampai ke titik dimana bangsa lain, yang sudah tidak memiliki identitas, mencoba untuk mengambil salah satu identitas tersebut, barulah sentakan amarah seperti mengingatkan kembali kepada masyarakat akan budaya yang terabaikan.

Perkembangan memang meninggalkan sisa-sisa kenangan identitas. Bangunan beridentitas masa lalu ditengah ribuan bangunan tanpa identitas, seperti seorang kakek atau nenek yang hidup dikelilingi cucunya. Bersama, tapi diabaikan. Hadir, tapi tidak hadir. Mereka berteriak dengan keasingannya, menggeliat menunjukkan dirinya, tetapi suaranya tidak didengarkan.

Ditinggalkan, nasib dari sesuatu yang dianggap tua, yang dianggap tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan perbedaan. Perubahan itu baik, tetapi selalu memakan korban.

Buktinya ada pada diri kita masing-masing. Apakah anda tahu identitas anda?

0 comments:

Post a Comment