May 4, 2010

Marah

Marah itu sebentuk emosi. Kalau digambarkan, warnanya pastilah merah menyala. Marah itu panas. Merusak diri sendiri dan merusak sekitarnya. Marah seharusnya tidak terlihat. Hanya auranya saja yang membakar dengan panasnya menjadikan sekelilingnya menjadi abu, hangus dan hitam sehingga manusia bisa melihatnya. Marah itu merusak. Akan tetapi diperlukan. Marah itu seperti penyakit, ikut menular dan menyakiti lainnya. Marah itu menyakitkan. Meninggalkan kesedihan dan dendam di dalam hati. Marah tidak boleh disimpan. Beratnya lebih dari beban yang bisa ditanggung manusia, akan tetapi tidak boleh dilemparkan ke orang lain sembarangan karena sekali dikeluarkan tidak bisa dicabut kembali. Marah itu menyebalkan. Luka yang ditinggalkannya sering tidak bisa hilang.

Marah itu buruk. Sebuah perasaan jelek yang terkadang perlu dikeluarkan dari dalam hati. Marah sebaiknya dirasakan sendiri. Jika terpaksa, baiklah silahkan dikeluarkan biar orang lain ikut merasakan panasnya. Hanya saja pengeluarannya harus sedikit berhati-hati. Sebab marah sangatlah tajam seperti pedang yang memiliki dua sisi. Ia bisa menyakiti kita dan bisa menyakiti orang lain sekaligus. Ia bisa membuat kita mendapatkan apa yang kita inginkan atau membuat kita semakin jauh dari apa yang kita inginkan.

Pengeluaran hawa marah tidak sama seperti pengeluaran zat lainnya dari dalam tubuh. Marah tidak sama seperti kentut yang efeknya memberikan rasa lega walau orang lain tersiksa sebentar jika mencium baunya. Atau tidak sama seperti tahi yang juga memberikan kelegaan luar biasa bagi kita jika dikeluarkan. Atau tidak sama seperti ingus yang hanya mengganggu jika tidak dikeluarkan dan sekaligus memberikan rasa jijik jika dikeluarkan. Juga tidak sama seperti keringat yang memang harus dikeluarkan demi kesehatan badaniah. Akan tetapi tidak sama seperti belek ataupun kotoran telinga yang rutin harus dibersihkan.

Persamaannya adalah, marah itu manusiawi, walau juga terdapat dalam diri binatang. Marah selalu ada di setiap lubuk hati manusia. Marah itu pelajaran, karena melalui keberadaannya maka manusia dapat mengenal kebijaksanaan, salah satu privilege yang pada akhirnya membedakan manusia dengan binatang. Marah itu hidup.

Marah adalah marah.



Marahlah, karena dengan marah maka kita hidup.

2 comments:

amadea said...

hahaha lucu ya bisa nulis dan mendeskripsikan tentang marah. so true anyway..

Vanya Alessandra said...

daripada gue keterusan swearing n ranting, mending ditulis aja deh :)

Post a Comment