January 11, 2011

May you live well in heaven...

Bermula dari mendapatkan berita di siang bolong dari papi, ‘Anaknya Om X hilang dari kemarin.’ Karena dapat ceritanya kemarin (senin), maka hilangnya berarti kemarinnya lagi (minggu). Kebetulan papi lumayan deket sama Om X, bisa dibilang itu teman baiknya. Kadang malah terlihat lebih dekat daripada saudara sendiri. Kaget tentu mendengar berita sepotong seperti itu. Anak yang umurnya sudah 20-an tahun hilang begitu saja.

Ketika ditanya ke papi, katanya kemarin diminta papanya untuk beli obat di apotek di kompleks rumahnya. Mereka tinggal di Sunter, yang kita semua tahu bukan merupakan daerah yang sepi terutama di hari Minggu. Setelah keluar dari rumah, sang ayah tidak mendengar kabar apapun dari anaknya lagi. Mulai pikiran buruk bermunculan, jangan-jangan diculik. Tapi cukup aneh memang kalau diculik, karena si anak mengendarai mobilnya sendiri di lingkungan yang ramai. Kalau asumsi orang kan penculikan itu biasa terjadi di tempat yang sepi dari khalayak umum.

Bagaimanapun juga, sang ayah yang cemas akhirnya memutuskan untuk mendatangi polisi untuk melaporkan hilangnya anaknya. Kabar sepotong-sepotong yang diberitakan papi ke kami di rumah diberitakan dalam kurun waktu beberapa jam sekali. Dan karena sepertinya semakin lama kondisinya semakin suram, kami tidak bertanya lebih jauh via telepon atau bbm. Yang kami tahu hanyalah minggu malam terjadi penarikan uang sejumlah 10 juta dari rekening sang anak dari daerah Bekasi. Lalu seninnya terjadi penggunaan kartu kredit sang anak di daerah Surabaya. Yang ada dipikiran saya masih terpecah, antara benar sang anak diculik, atau memang kabur. Semoga saja kabur, karena berarti dia pergi atas kemauan sendiri, bukan diculik. Tante X menangis tak berhenti memikirkan anaknya. Harusnya dari tangisannya saja sudah bisa diduga bahwa sang anak bukan hilang atas kemauan sendiri, sebut saja naluri seorang ibu.

Malam hari kemarin, papi mengabari bahwa mereka akan pergi ke Cikampek untuk mencari sang anak yang katanya dibuang disana. Saya tidak tahu apakah kalian percaya atau tidak dengan sixth sense, nyatanya memang ada beberapa orang yang diberi karunia untuk melihat hal-hal yang biasanya tidak bisa dilihat oleh orang lain. Intinya, salah satu teman dari teman mereka memiliki kemampuan itu dan mengatakan bahwa sang anak ada di daerah Cikampek, dan mobilnya sudah dibawa pergi tentunya. Mungkin kalian berpikir betapa anehnya mempercayai kata-kata tanpa dasar seperti itu. Tapi kalau di benak saya, orang tua yang putus asa mencari anaknya yang hilang akan melakukan apapun, apapun yang memberikan harapan walau hanya sesedikit mungkin, semua demi anaknya. Dan mereka memutuskan untuk mempercayai harapan tipis itu. Maka pergilah mereka dengan papi mami dan entah berapa orang lainnya untuk mendatangi rumah sakit di tempat yang ditunjukkan itu.

Muncul sedikit pikiran buruk bahwa sang anak pasti dalam kondisi yang buruk, karena kalau tidak, maka pasti dia akan mencari bantuan. Tidak ada yang berani menyebutkan kata meninggal, semua berharap sang anak ditemukan dalam keadaan selamat. Kami semua mengatakan pasti selamat karena begini, pasti selamat karena begitu, mencarikan alibi atas ketidakadaan kabar sang anak. Pada dasarnya, manusia yang mungkin punya sedikit naluri mengenai suatu fakta, sering tidak berani mengucapkannya karena dia berharap fakta itu salah. Sometimes we spoke something to convince ourself.

Kabar berikutnya yang kami terima adalah bahwa sang anak ditemukan dalam keadaan meninggal. Dijerat menggunakan tali sepatu, dan jasatnya dibuang di kali. Ditemukan oleh warga pada pukul 8 pagi kemarin. Perih bukan? Orang tua harusnya tidak memiliki beban untuk mengubur anaknya sendiri. Anak harusnya hidup sampai besar untuk melihat orangtuanya menua sementara mereka tumbuh menjadi dewasa. Tapi hidup memang aneh, dan apapun mungkin terjadi.

Kalau papi mami dan pasangan Om dan Tante X tinggal di satu daerah yang sama, mungkin kami dan sang anak akan saling mengenal seperti saudara sepupu saja. Toh orang tua kami sangatlah dekat. Akan tetapi, pada faktanya kami tidak mengenal sang anak. Tetapi walau kami tidak mengenalnya, bohong jika kami bisa menghilangkan perasaan sedih dan prihatin, perasaan miris yang kami rasakan ketika menerima berita ini. Sedih melihat kesedihan papi yang mengenal anak itu sejak kecil. Sedih memikirkan perasaan orang tuanya yang mendadak kehilangan anaknya dalam keadaan yang sangat tidak manusiawi.

Wajar jika manusia memiliki rasa cemas hingga paranoid karena faktanya begitu banyak kejahatan yang tega ditimpakan kepada orang lain ketika seseorang menginginkan sesuatu. Manusia dengan mudahnya tega manghilangkan nyawa. Mengetahui cerita ini semakin menyadarkan bahwa manusia memiliki hidup yang luar biasa singkat. Sekarang ada besok bisa hilang.

Farewell, David. May you rest in peace. No matter how soon you departed from this world and how cruel its way, I hope you have a great life and get a peace inside. God please give strength to his parents who left behind. And God please protect all of us from any evilness from other people’s mind.


Our Father, Who art in heaven, Hallowed be Thy Name.
Thy Kingdom come.
Thy Will be done, on earth as it is in Heaven.
Give us this day our daily bread.
And forgive us our trespasses, as we forgive those who trespass against us.
And lead us not into temptation, but deliver us from evil.
Amen.

0 comments:

Post a Comment