It wakes me up, that somehow, people change, and somehow, people don’t. I used to think that I am the same person as I was before, but that’s not true, because I am not the same person as I was before. Even my face is changing (not like I have a nose job or something), it’s just that my face is merrier than before (they’ve said to me).
But to tell you that I am change, I am not really sure that I can state about that either. And somehow, I don’t think that people can change, like the-bad-become-good change. This is real life, not a story when a bad man experience some nearly-dead time and change drastically after that. Sure not as easy as that. There’s a lot to tell and there’s a lot to feel that somehow maybe people just being different person than before. But that doesn’t mean that they’ve changed.
They’re just, in one way to say, adapting. Life cut some part of here, mold lots part of there, shake few part of this, and break bunch part of that. So yeah, I really think that people don’t change, it’s a mere adapting themself into a new condition that suits them better.
And maybe their inner side has a lot of influences toward them being different. Just maybe. (And maybe not.)
But at least, people grow, whether it’s growing better or worse (Because time is always coming forward, right?).
And I categorized myself as growing, not bigger (or older of course), but tougher (and wiser I hope).
And more content.
And a lots lots lots happier.
Thanks God for it (:
Showing posts with label mind-talk. Show all posts
Showing posts with label mind-talk. Show all posts
July 4, 2011
March 23, 2011
Life, as I know it..
Pernah ada masa-masa dimana gue percaya ama dunia semanis cotton candy. Bukan berarti sekarang gue gak percaya sama dunia semanis madu semacam itu. Gue tetep yakin dunia itu ada, tapi bukan untuk orang seperti gue. Buat gue, hidup itu layaknya rasanya nano-nano, campur aduk.
Dunia pink ala cotton candy cuma terjadi sama orang-orang manis yang suka pake baju-baju berenda dan baby doll warna pastel. Buat cewek yang memelihara anjing maltese, pom-pom dan shihtzu yang dikasi hiasan pita di kepala dan lonceng di leher yang dijinjing dalam tas kemana-mana. Cocok buat cewek yang pake balet shoes mungil berwarna pink atau silver. Cewek-cewek yang koleksi ratusan Barbie dan puluhan Teddy Bear. Intinya, cewek-cewek pink. Well, I’m not those kind of girl.
Gue cewek yang lebih suka pake jeans dan atasan dibanding rok terusan. Anjing yang ada dibenak gue tuh anjing golden yang berlarian liar di taman, bukan dikandangin ato ditaro di dalam tas. Gue lebih nyaman sama warna hitam putih abu-abu yang kesannya netral. Dibanding jatuh cinta sama Hello Kitty, gue malah fall in love sama Eeyore yang gloomy.
Gue cuma orang yang sadar sekali kalau dibawah bunga-bunga yang bewarna-warni, terdapat tanah yang warnanya coklat dan rasanya lembek. Sebagai seorang realis, hal yang gue sadari secara penuh adalah bahwa hidup itu pahit, tapi gak perlu ribut, Tuhan ngasih kita gula buat mempermanis hidup kok.
Cewek-cewek itu dan gue emang definitely berbeda karakter. Tapi bukan berarti cewek-cewek itu dan gue punya porsi yang berbeda buat ngerasain senyuman. Sama-sama manusia, apapun packaging-nya, hak buat ngerasain senyumannya sama besarnya. Kami punya kesempatan yang sama kok buat ketawa dan ngerasa bahagia. Jadi, gak perlu dibandingin atau disesalin.
Emang sempet ada masanya ketika buat gue packaging itu jadi penting sekali. Saking pentingnya, kadang gue bahkan pernah sampe lupa ngeliat isinya. Kayak milih wine di cellar. Lo gak akan nyangka bahwa wine terenak mungkin tersimpan dalam botol yang paling debuan dan dekil.
Intinya, Tuhan itu adil. Dia sengaja nyiptain manusia dengan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu sebenernya lo gak perlu mengubah atau menyembunyikan keunikan lo. You can choose to be whether a trendsetter or a copycat. Yah, gue juga bukan trendsetter sih, tapi gue jelas bukan copycat. Hidup aja udah susah, kenapa perlu repot hidup dengan standard orang lain?
Jadi ngerti kan kenapa gue cinta setengah mati sama hidup gue?
Dunia pink ala cotton candy cuma terjadi sama orang-orang manis yang suka pake baju-baju berenda dan baby doll warna pastel. Buat cewek yang memelihara anjing maltese, pom-pom dan shihtzu yang dikasi hiasan pita di kepala dan lonceng di leher yang dijinjing dalam tas kemana-mana. Cocok buat cewek yang pake balet shoes mungil berwarna pink atau silver. Cewek-cewek yang koleksi ratusan Barbie dan puluhan Teddy Bear. Intinya, cewek-cewek pink. Well, I’m not those kind of girl.
Gue cewek yang lebih suka pake jeans dan atasan dibanding rok terusan. Anjing yang ada dibenak gue tuh anjing golden yang berlarian liar di taman, bukan dikandangin ato ditaro di dalam tas. Gue lebih nyaman sama warna hitam putih abu-abu yang kesannya netral. Dibanding jatuh cinta sama Hello Kitty, gue malah fall in love sama Eeyore yang gloomy.
Gue cuma orang yang sadar sekali kalau dibawah bunga-bunga yang bewarna-warni, terdapat tanah yang warnanya coklat dan rasanya lembek. Sebagai seorang realis, hal yang gue sadari secara penuh adalah bahwa hidup itu pahit, tapi gak perlu ribut, Tuhan ngasih kita gula buat mempermanis hidup kok.
Cewek-cewek itu dan gue emang definitely berbeda karakter. Tapi bukan berarti cewek-cewek itu dan gue punya porsi yang berbeda buat ngerasain senyuman. Sama-sama manusia, apapun packaging-nya, hak buat ngerasain senyumannya sama besarnya. Kami punya kesempatan yang sama kok buat ketawa dan ngerasa bahagia. Jadi, gak perlu dibandingin atau disesalin.
Emang sempet ada masanya ketika buat gue packaging itu jadi penting sekali. Saking pentingnya, kadang gue bahkan pernah sampe lupa ngeliat isinya. Kayak milih wine di cellar. Lo gak akan nyangka bahwa wine terenak mungkin tersimpan dalam botol yang paling debuan dan dekil.
Intinya, Tuhan itu adil. Dia sengaja nyiptain manusia dengan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu sebenernya lo gak perlu mengubah atau menyembunyikan keunikan lo. You can choose to be whether a trendsetter or a copycat. Yah, gue juga bukan trendsetter sih, tapi gue jelas bukan copycat. Hidup aja udah susah, kenapa perlu repot hidup dengan standard orang lain?
Jadi ngerti kan kenapa gue cinta setengah mati sama hidup gue?
November 4, 2010
Identitas versus Perubahan
Kultur, atau budaya, adalah salah satu hal yang paling sering menjadi korban dalam sejarah perkembangan manusia dari jaman ke jaman. Bicara mengenai tradisi, akar silsilah, kepercayaan, mitos, legenda, identitas, serta hal-hal lainnya yang sangat bertolak belakang dengan perubahan. Terkadang perubahan itu baik. Pada saat lainnya, perubahan itu lancang dan kejam.
Melahirkan dan membesarkan sebuah budaya memerlukan generasi, bukan merupakan pekerjaan Sangkuriang yang terjadi dalam semalam saja. Mematikan sebuah budaya, di sisi lainnya, hanya memerlukan waktu beberapa jam saja. Contohnya revolusi Perancis, letusan Gunung Vesuvius di kota Pompeii, runtuhnya Menara Babel, tenggelamnya kapal Titanic, hilangnya Benua Atlantis, reformasi 98, sebutlah banyak kejadiaan lainnya. Semudah itu menghilangkan sebuah identitas dan menggantinya dengan yang baru.
Masalahnya, kebanyakan budaya pada akhirnya tidak memiliki jejak peninggalan bagi generasi berikutnya. Memang ada beberapa peninggalan signifikan seperti bangunan, prasasti, makam, reruntuhan, dan sisa-sisa lainnya. Akan tetapi seringnya peninggalan tersebut tidak bisa banyak berbicara, atau bahkan diharapkan tidak berbicara banyak. Sulit sekali mencari akar dari sebuah tradisi, terutama tradisi yang sudah punah. Sisa-sisa pembelaan dirinya sangat kecil suaranya sehingga tidak terdengar sama sekali.
Mungkin itu egoisme manusia, coba bayangkan anda menjadi penguasa baru yang ingin membawa udara baru. Tentu anda akan berusaha untuk menghapus jejak-jejak penguasa lama tersebut bukan? Manusiawi dan wajar, tetapi disitulah sisi kejamnya. Demi mencapai sebuah kemajuan, sebuah kehidupan yang diharapkan menjadi lebih baik, maka manusia harus mengorbankan sesuatu, dan biasanya sesuatu itu adalah identitas. Dan itu benar terjadi, bahkan legenda masa lalu saja sudah menyadari fakta ini. Lihat saja cerita Malin Kundang yang kaya raya menolak ibunya yang melarat karena malu. Kehidupan yang lebih baik memang seperti narkotik bagi kaum yang mengejar kemuliaan.
Bangsa kita di satu sisi, merupakan sebuah bangsa yang ingin menuju ke arah sana, tetapi masih tetap berpegang pada kebanggaan terhadap masa lalu. Bangsa ini terjepit diantara dua hal yang ingin dipegang sekaligus secara bersamaan. Satu adalah identitas, dan satunya adalah bayangan akan utopia. Bagi bangsa yang dikaruniai dengan kebanggaan akan ribuan budaya, bangsa ini seperti bingung akan budaya mana yang mau dipertahankan atau ditonjolkan. Akibatnya malah akhirnya semuanya diabaikan sampai ke titik dimana bangsa lain, yang sudah tidak memiliki identitas, mencoba untuk mengambil salah satu identitas tersebut, barulah sentakan amarah seperti mengingatkan kembali kepada masyarakat akan budaya yang terabaikan.
Perkembangan memang meninggalkan sisa-sisa kenangan identitas. Bangunan beridentitas masa lalu ditengah ribuan bangunan tanpa identitas, seperti seorang kakek atau nenek yang hidup dikelilingi cucunya. Bersama, tapi diabaikan. Hadir, tapi tidak hadir. Mereka berteriak dengan keasingannya, menggeliat menunjukkan dirinya, tetapi suaranya tidak didengarkan.
Ditinggalkan, nasib dari sesuatu yang dianggap tua, yang dianggap tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan perbedaan. Perubahan itu baik, tetapi selalu memakan korban.
Buktinya ada pada diri kita masing-masing. Apakah anda tahu identitas anda?
Melahirkan dan membesarkan sebuah budaya memerlukan generasi, bukan merupakan pekerjaan Sangkuriang yang terjadi dalam semalam saja. Mematikan sebuah budaya, di sisi lainnya, hanya memerlukan waktu beberapa jam saja. Contohnya revolusi Perancis, letusan Gunung Vesuvius di kota Pompeii, runtuhnya Menara Babel, tenggelamnya kapal Titanic, hilangnya Benua Atlantis, reformasi 98, sebutlah banyak kejadiaan lainnya. Semudah itu menghilangkan sebuah identitas dan menggantinya dengan yang baru.
Masalahnya, kebanyakan budaya pada akhirnya tidak memiliki jejak peninggalan bagi generasi berikutnya. Memang ada beberapa peninggalan signifikan seperti bangunan, prasasti, makam, reruntuhan, dan sisa-sisa lainnya. Akan tetapi seringnya peninggalan tersebut tidak bisa banyak berbicara, atau bahkan diharapkan tidak berbicara banyak. Sulit sekali mencari akar dari sebuah tradisi, terutama tradisi yang sudah punah. Sisa-sisa pembelaan dirinya sangat kecil suaranya sehingga tidak terdengar sama sekali.
Mungkin itu egoisme manusia, coba bayangkan anda menjadi penguasa baru yang ingin membawa udara baru. Tentu anda akan berusaha untuk menghapus jejak-jejak penguasa lama tersebut bukan? Manusiawi dan wajar, tetapi disitulah sisi kejamnya. Demi mencapai sebuah kemajuan, sebuah kehidupan yang diharapkan menjadi lebih baik, maka manusia harus mengorbankan sesuatu, dan biasanya sesuatu itu adalah identitas. Dan itu benar terjadi, bahkan legenda masa lalu saja sudah menyadari fakta ini. Lihat saja cerita Malin Kundang yang kaya raya menolak ibunya yang melarat karena malu. Kehidupan yang lebih baik memang seperti narkotik bagi kaum yang mengejar kemuliaan.
Bangsa kita di satu sisi, merupakan sebuah bangsa yang ingin menuju ke arah sana, tetapi masih tetap berpegang pada kebanggaan terhadap masa lalu. Bangsa ini terjepit diantara dua hal yang ingin dipegang sekaligus secara bersamaan. Satu adalah identitas, dan satunya adalah bayangan akan utopia. Bagi bangsa yang dikaruniai dengan kebanggaan akan ribuan budaya, bangsa ini seperti bingung akan budaya mana yang mau dipertahankan atau ditonjolkan. Akibatnya malah akhirnya semuanya diabaikan sampai ke titik dimana bangsa lain, yang sudah tidak memiliki identitas, mencoba untuk mengambil salah satu identitas tersebut, barulah sentakan amarah seperti mengingatkan kembali kepada masyarakat akan budaya yang terabaikan.
Perkembangan memang meninggalkan sisa-sisa kenangan identitas. Bangunan beridentitas masa lalu ditengah ribuan bangunan tanpa identitas, seperti seorang kakek atau nenek yang hidup dikelilingi cucunya. Bersama, tapi diabaikan. Hadir, tapi tidak hadir. Mereka berteriak dengan keasingannya, menggeliat menunjukkan dirinya, tetapi suaranya tidak didengarkan.
Ditinggalkan, nasib dari sesuatu yang dianggap tua, yang dianggap tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan perbedaan. Perubahan itu baik, tetapi selalu memakan korban.
Buktinya ada pada diri kita masing-masing. Apakah anda tahu identitas anda?
November 1, 2010
Keterbatasan Berbahasa
Kalau dikatakan bahwa masalah di dunia ini semua bermula dari bahasa maka itu sangat masuk akal. Manusia memang diciptakan secitra dengan penciptanya, tentu saja tetap memiliki keterbatasan jika dibandingkan dengan kehebatan sang pencipta. Kalau dalam alkitab agama kristiani, masalah bahasa yang paling terkenal pastinya kisah menara Babel. Disana diceritakan bahwa karena manusia tamak dan berusaha mendekati Tuhan dengan caranya sendiri maka marahlah Tuhan dan menghukum manusia dengan memberikan bahasa yang beraneka ragam sehingga mereka tidak dapat memahami satu sama lainnya.
Karena Tuhan adalah sang maha bijak dan maha hebat maka Dia pasti memiliki bahasa yang jauh lebih kompleks dan rumit dibanding manusia. Sebetulnya hanya seperti menjentikkan jari saja maka dalam sepersekian detik Tuhan bisa mentransfer pikriannya ke pikiran manusia. Sayangnya manusia bahasanya terlalu terbatas untuk memahami apa yang disampaikan oleh Tuhan. Mungkin karena itulah Tuhan selalu menggunakan simbol atau tanda tertentu dalam berbicara dengan manusia. Contohnya perjanjian Tuhan dengan Nuh yang berwujud pelangi atau janji Tuhan yang diwujudkan dalam mengirim Yesus, putranya ke bumi untuk menebus dosa manusia. Pejanjian Tuhan sering tidak menggunakan bahasa manusia tetapi berwujud symbol. Bahkan kisah di alkitab menggunakan banyak sekali perumpamaan yang mungkin terkesan membingungkan.
Padahal kalau dipikir-pikir, kenapa Tuhan harus membuat bahasa yang rumit di alkitab? Manusia yang membacanya kan bisa punya interpretasi masing-masing dan pesan yang disampaikan akan hilang dalam kesalahpahaman. Tetapi kalau melihat masalah bahasa pada diri manusia maka logis sekali alasan penggunaan simbol dan tanda di alkitab tersebut. Alasannya mungkin semata supaya alkitab dapat dibaca di jaman apapun tanpa perlu kehilangan pesan sebenarnya. Itu dengan catatan kalau manusia yang membacanya bisa memecahkan kode yang terkandung di dalamnya. Sama seperti peta harta karun, harus ada kunci yang bisa digunakan supaya pembacanya bisa mengerti maksudnya.
Bila benar masalah duniawi adalah bahasa, maka wajar saja kalau dalam hubungan antar manusia sering terjadi kesalahpahaman berkomunikasi. Sering ada pepatah yang mengatakan ‘andai hati terbuat dari kaca dan bisa dikeluarkan supaya orang bisa melihat isinya yang sesungguhnya.’ Sepertinya memang manusia harus berusaha lebih keras dalam menyampaikan isi hatinya demi mecegah kesalahpahaman berkomunikasi.
Karena Tuhan adalah sang maha bijak dan maha hebat maka Dia pasti memiliki bahasa yang jauh lebih kompleks dan rumit dibanding manusia. Sebetulnya hanya seperti menjentikkan jari saja maka dalam sepersekian detik Tuhan bisa mentransfer pikriannya ke pikiran manusia. Sayangnya manusia bahasanya terlalu terbatas untuk memahami apa yang disampaikan oleh Tuhan. Mungkin karena itulah Tuhan selalu menggunakan simbol atau tanda tertentu dalam berbicara dengan manusia. Contohnya perjanjian Tuhan dengan Nuh yang berwujud pelangi atau janji Tuhan yang diwujudkan dalam mengirim Yesus, putranya ke bumi untuk menebus dosa manusia. Pejanjian Tuhan sering tidak menggunakan bahasa manusia tetapi berwujud symbol. Bahkan kisah di alkitab menggunakan banyak sekali perumpamaan yang mungkin terkesan membingungkan.
Padahal kalau dipikir-pikir, kenapa Tuhan harus membuat bahasa yang rumit di alkitab? Manusia yang membacanya kan bisa punya interpretasi masing-masing dan pesan yang disampaikan akan hilang dalam kesalahpahaman. Tetapi kalau melihat masalah bahasa pada diri manusia maka logis sekali alasan penggunaan simbol dan tanda di alkitab tersebut. Alasannya mungkin semata supaya alkitab dapat dibaca di jaman apapun tanpa perlu kehilangan pesan sebenarnya. Itu dengan catatan kalau manusia yang membacanya bisa memecahkan kode yang terkandung di dalamnya. Sama seperti peta harta karun, harus ada kunci yang bisa digunakan supaya pembacanya bisa mengerti maksudnya.
Bila benar masalah duniawi adalah bahasa, maka wajar saja kalau dalam hubungan antar manusia sering terjadi kesalahpahaman berkomunikasi. Sering ada pepatah yang mengatakan ‘andai hati terbuat dari kaca dan bisa dikeluarkan supaya orang bisa melihat isinya yang sesungguhnya.’ Sepertinya memang manusia harus berusaha lebih keras dalam menyampaikan isi hatinya demi mecegah kesalahpahaman berkomunikasi.
October 27, 2010
Being a woman,
there some rules I need to follow.
One is being independent. Never put your life on someone else’s hand. Don’t always put yourself under someone, or behind someone. But remember not to put yourself on top or in front either.
Two is always remembering your fate. Woman is always a woman. You may work, you may be independent, but woman always need a man beside her.
Three is no matter how hard the circumstances, a real woman never shows her emotion in public. Don’t cry in public. Don’t scream in public. Don’t kick someone in public. Be a real lady, or if you are not, act like a real lady.
Four is never use your tears to push others. It won’t work, and you’ll regret it later.
Five is just be yourself. You are not perfect, so instead of try to be perfect why don’t you find someone who thinks that you are perfect.
One is being independent. Never put your life on someone else’s hand. Don’t always put yourself under someone, or behind someone. But remember not to put yourself on top or in front either.
Two is always remembering your fate. Woman is always a woman. You may work, you may be independent, but woman always need a man beside her.
Three is no matter how hard the circumstances, a real woman never shows her emotion in public. Don’t cry in public. Don’t scream in public. Don’t kick someone in public. Be a real lady, or if you are not, act like a real lady.
Four is never use your tears to push others. It won’t work, and you’ll regret it later.
Five is just be yourself. You are not perfect, so instead of try to be perfect why don’t you find someone who thinks that you are perfect.
August 31, 2010
1+1 belum tentu = 2
Dari jaman pertama kali manusia belajar, penjumlahan mungkin adalah dasar pembelajaran perhitungan matematis yang akan digunakan sampai kapanpun juga. Satu tambah satu sama dengan 2. Itu yang ditanamkan di benak kita sampai-sampai kita terlalu terpaku pada wujudnya. Memang jika satu tambah satu sama dengan dua, hidup menjadi jauh lebih mudah. Semua hal dihitung dari kuantitasnya saja. Tidak repot bukan? Beli karcis bioskop misalnya, jika ada dua kepala, maka yang harus dibayar adalah dua. Sama dengan tiket pesawat atau tiket masuk taman bermain. Terkadang ada sedikit pengertian dari penjual dengan mengurangi harga untuk anak-anak dibawah lima tahun (misalnya).
Itu kalau bendanya mudah dihitung, seperti kepala atau telur. Satu kilo telur ya enam belas biji, kalau ada timbangan baru ditimbang, kalau tidak ada yasudah hitung saja berdasarkan enam belas biji itu. Kalau beli ayam di pasar maka hitungannya per ekor. Kalau beli sayur maka hitungannya per ikat. Kalau belanjanya di supermarket, maka hitungannya menggunakan timbangan, sampai nol koma nol sekian pun harus kita bayar ke sen terakhir. Lebih adil mungkin dibanding di pasar, tapi harganya relatif lebih mahal sedikit dari pasar tradisional.
Lalu sebenarnya apakah tulisan ini adalah tentang belanjaan dan pasar? Tentu bukan.
Di seluruh area kehidupan kita, satu tambah satu adalah dua. Fix, tidak bisa ditawar lagi. Padahal manusia tidak sama per pribadinya. Baik telur, ayam, manusia, bahkan benda-benda mass produksi sekalipun tidak ada yang sama persis. Memang kalau dilihat sekilas, semua benda mass produksi itu bentuknya warnanya benar-benar (nyaris) identikal. Tapi sejujurnya siapa yang bisa menakar kesamaannya. Mata kita melihat beberapa kesamaan signifikan dan mengatakan itu sama. Mulut kita merasakan kesamaan rasa maka kita mengatakan itu sama. Penilaiaannya relatif sekali.
Contohnya indomie, makanan (nyaris) pokok bangsa Indonesia. Hari ini makan sebungkus terasa kenyang, besok makan sebungkus terasa kurang. Aqua botol 600ml, pagi diminum terasa segar, sore diminum terasa kurang manis dibanding botol yang pagi. Karcis bioskop dua kepala maka dua tiket, tanpa peduli kepala yang satu beratnya empat puluh kilo dan kepala lainnya beratnya sembilan puluh kilo. Bahkan dua buah melon yang memiliki berat yang sama tetapi belum tentu kadar kesegarannya dan manisnya sama satu dengan yang lainnya. Padahal kalian membayar sama untuk kedua benda identik tersebut. Adil? Tentu tidak. Mudah? Tentu iya.
Satu tambah satu adalah dua merupakan sebuah prinsip kuantitas. Padahal yang lebih meninggalkan persepsi di benak manusia adalah kualitas. Kalau menggunakan kuantitas maka lama hubungan ditambah faktor kebiasaan berarti cinta. Kalau menggunakan kualitas maka sesedikit apapun waktunya kalau dijalani dengan sepenuh hati akan lebih bermakna dari jam-jam lainnya yang terbuang. Memakan seporsi omelete di restoran tidak sama dengan feeling yang ditinggalkan ketika anda memakan omelete yang dimasakkan oleh istri tercinta.
Itu adalah bukti nyata bahwa hidup adalah relative dan persepsi manusia lebih mudah diisi oleh sebuah kualitas. Jika selalu meributkan kuantitas sesuatu, mungkin lama-lama akan melupakan sebuah kualitas. Kuantitas melupakan sebuah kesan, sedangkan kualitas meninggalkan kenangan yang akan selalu diingat oleh benak manusia.
Jadi berhubung hidup itu relatif, mari kita memupuk kualitas. Karena jangan-jangan satu tambah satu belum tentu sama dengan dua.
Itu kalau bendanya mudah dihitung, seperti kepala atau telur. Satu kilo telur ya enam belas biji, kalau ada timbangan baru ditimbang, kalau tidak ada yasudah hitung saja berdasarkan enam belas biji itu. Kalau beli ayam di pasar maka hitungannya per ekor. Kalau beli sayur maka hitungannya per ikat. Kalau belanjanya di supermarket, maka hitungannya menggunakan timbangan, sampai nol koma nol sekian pun harus kita bayar ke sen terakhir. Lebih adil mungkin dibanding di pasar, tapi harganya relatif lebih mahal sedikit dari pasar tradisional.
Lalu sebenarnya apakah tulisan ini adalah tentang belanjaan dan pasar? Tentu bukan.
Di seluruh area kehidupan kita, satu tambah satu adalah dua. Fix, tidak bisa ditawar lagi. Padahal manusia tidak sama per pribadinya. Baik telur, ayam, manusia, bahkan benda-benda mass produksi sekalipun tidak ada yang sama persis. Memang kalau dilihat sekilas, semua benda mass produksi itu bentuknya warnanya benar-benar (nyaris) identikal. Tapi sejujurnya siapa yang bisa menakar kesamaannya. Mata kita melihat beberapa kesamaan signifikan dan mengatakan itu sama. Mulut kita merasakan kesamaan rasa maka kita mengatakan itu sama. Penilaiaannya relatif sekali.
Contohnya indomie, makanan (nyaris) pokok bangsa Indonesia. Hari ini makan sebungkus terasa kenyang, besok makan sebungkus terasa kurang. Aqua botol 600ml, pagi diminum terasa segar, sore diminum terasa kurang manis dibanding botol yang pagi. Karcis bioskop dua kepala maka dua tiket, tanpa peduli kepala yang satu beratnya empat puluh kilo dan kepala lainnya beratnya sembilan puluh kilo. Bahkan dua buah melon yang memiliki berat yang sama tetapi belum tentu kadar kesegarannya dan manisnya sama satu dengan yang lainnya. Padahal kalian membayar sama untuk kedua benda identik tersebut. Adil? Tentu tidak. Mudah? Tentu iya.
Satu tambah satu adalah dua merupakan sebuah prinsip kuantitas. Padahal yang lebih meninggalkan persepsi di benak manusia adalah kualitas. Kalau menggunakan kuantitas maka lama hubungan ditambah faktor kebiasaan berarti cinta. Kalau menggunakan kualitas maka sesedikit apapun waktunya kalau dijalani dengan sepenuh hati akan lebih bermakna dari jam-jam lainnya yang terbuang. Memakan seporsi omelete di restoran tidak sama dengan feeling yang ditinggalkan ketika anda memakan omelete yang dimasakkan oleh istri tercinta.
Itu adalah bukti nyata bahwa hidup adalah relative dan persepsi manusia lebih mudah diisi oleh sebuah kualitas. Jika selalu meributkan kuantitas sesuatu, mungkin lama-lama akan melupakan sebuah kualitas. Kuantitas melupakan sebuah kesan, sedangkan kualitas meninggalkan kenangan yang akan selalu diingat oleh benak manusia.
Jadi berhubung hidup itu relatif, mari kita memupuk kualitas. Karena jangan-jangan satu tambah satu belum tentu sama dengan dua.
July 22, 2010
Bahasa; Komunikasi atau Miskomunikasi?
Manusia hidup di dunia dengan sebuah priviledge khusus, yaitu salah satu hak asasi manusia untuk mengeluarkan pendapatnya secara bebas. Demi hak tersebut, manusia dikaruniai alat penyampaian, alat penerimaan, pengertian untuk pemaknaan, dan tentunya bahasa. Ya, bahasa, beribu ragam bahasa peninggalan jaman menara Babel yang memecah belah manusia menjadi ribuan suku yang berbeda bahasa (jika kita melihat dari cerita tersebut) dan tentu saja berbagai bahasa pengembangannya.
Bahasa diciptakan untuk manusia berkomunikasi. Tujuannya jelas untuk mempermudah manusia dalam saling memahami. Manusia dikaruniai mulut dan lidah untuk berbicara suatu bahasa dan telinga untuk mendengar suatu bahasa. Bahkan dalam hati dan pikiran kita berseliweran bahasa-bahasa yang paling kita kuasai. Bahasa benar adalah sebuah alat bantu manusia. Tetapi apakah benar manusia hanya berkomunikasi dengan bahasa saja? Apakah bahasa merupakan alat tertinggi buat manusia untuk menyampaikan maksudnya? Bahasa, suatu alat untuk lebih saling memahami akan tetapi terkadang malah bisa membuat manusia menjadi tidak saling memahami. Terkadang, sejujurnya terkadang, bahasa malah seperti membatasi komunikasi. Jika seperti itu, apakah kesalahan terletak pada pengucapan, penerimaan, atau pemaknaan?
Bahasa sungguh terbatas oleh kapasitas penggunaan kata-kata yang disediakan dalam vocabulary-nya. Contohnya dalam bahasa Inggris, bahasa Internasional yang harusnya dianggap paling luas sehingga diberi jabatan internasional tersebut. Jumlah vocabulary dalam bahasa Inggris paling hanya sejumlah ratusan ribu atau jutaan (sungguh sumpah saya tidak tahu jumlahnya). Itu baru bahasa Inggris, jangan-jangan bahasa lainnya yang lebih sederhana vocabulary-nya memiliki jumlah yang lebih sedikit dari itu dan tentu saja lebih membatasi pengungkapannya. Di lain pihak, manusia, yang katanya diciptakan sesuai citra penciptanya, memiliki kedalaman pikiran dan perasaan yang pastinya sering sulit untuk dijabarkan dengan sejumlah vocabulary terbatas tersebut. Sering sekali pastinya manusia menghadapi kejadian dimana pikirannya berkecamuk berbagai emosi sedangkan mulutnya terkunci karena tidak tahu kata-kata macam apa yang harus dikeluarkan untuk mengungkapkan perasaannya. Lalu kalau sudah begitu, apakah bahasa membantu?
Saya pernah mendengar pertanyaan dari seorang teman, ‘Bagaimana jika tidak ada bahasa di dunia?’ Pikiran pertama yang muncul adalah betapa sulitnya kalau tidak ada bahasa kan. Bagaimana cara manusia berkomunikasi kalau begitu. Akan tetapi setelah dipikirkan lebih lanjut, sepertinya saya terlalu terpaku pada kata ‘bahasa’ itu sendiri. Apakah betul sebuah bahasa hanyalah kumpulan kata-kata yang bisa dirangkai untuk menyampaikan maksudnya? Seperti helaian benang yang kalau disatukan bisa membentuk lembaran kain. Memang kalau seperti itu, jika pemahaman mengenai bahasa hanyalah kumpulan vocabulary, jika material mentahnya diambil, which is, in this case, the words, maka habislah sudah komunikasi manusia. Sama ketika kalau benangnya diambil, maka tidak akan terjadi lembaran kain.
Lalu bagaimana dengan pikiran dan perasaan yang susah dijabarkan tersebut, yang kadang-kadang bahkan berbagai bahasa saja tidak dapat menjabarkannya. Bagaimana dengan pemunculan ide abstrak dalam pikiran yang masih sangat mentah, yang sungguh sulit untuk dijelaskan. Kita sebagai pemilik ide, pikiran, dan perasaan tentu paham bagaimana maknanya bukan, hanya saja jika disuruh menjelaskan, mulut terasa terkunci. Apakah substansi abtrak tersebut bukanlah bentuk bahasa yang lain? Bahasa yang sebenarnya, bahasa yang bukan dalam pemaknaan berupa kumpulan kata saja.
Mungkin memang sebaiknya jangan membatasi pengertian bahasa sampai pada kumpulan vocabulary saja, sebab jika hanya mengandalkan kata-kata yang tersedia, tentu sulit sekali menjelaskan suatu konsep dalam benak kita supaya dimengerti oleh orang lain. Pikiran dan perasaan, jika diungkapkan saja sering menimbulkan kesalahpahaman. Sedangkan media pengungkapan bahasa jaman sekarang jumlahnya ribuan. Bisa melalui indra penglihatan, pendengaran, perasa, apapun. Sedangkan pemahaman melalui salah satu indra, yang berarti hanya sepotong informasi saja, bisa saja salah. Kalau sudah salah paham, dimana letak missing link yang menimbulkan perkara tersebut? Apakah penyampaiannya? Apakah penerimaannya? Apakah pemaknaannya? Memang luas sekali ya bahasa itu ternyata. Bisa digunakan untuk berkomunikasi, bisa menimbulkan miskomunikasi. Bisa dijadikan alat perdamaian, bisa dijadikan senjata. Pedang bermata dua yang sederhana tapi sejujurnya memiliki fungsi yang luar biasa besarnya.
Jadi, saran saya, jangan mengkotakkan bahasa, jangan mengkotakkan diri. Dunia begitu luas, ada ratusan juta kemungkinan yang tersedia. Belajarlah untuk mengolah informasi setelah mengumpulkan semua potongan keterangan sehingga bebas dari salah penggunaan yang merugikan. Bahasa selaku alat berkomunikasi yang bisa menimbulkan miskomunikasi juga hanyalah sebuah alat bantu semata. Menuankan bahasa bisa mencelakakan diri sendiri. Manfaatkan dia dengan bijak.
Bahasa diciptakan untuk manusia berkomunikasi. Tujuannya jelas untuk mempermudah manusia dalam saling memahami. Manusia dikaruniai mulut dan lidah untuk berbicara suatu bahasa dan telinga untuk mendengar suatu bahasa. Bahkan dalam hati dan pikiran kita berseliweran bahasa-bahasa yang paling kita kuasai. Bahasa benar adalah sebuah alat bantu manusia. Tetapi apakah benar manusia hanya berkomunikasi dengan bahasa saja? Apakah bahasa merupakan alat tertinggi buat manusia untuk menyampaikan maksudnya? Bahasa, suatu alat untuk lebih saling memahami akan tetapi terkadang malah bisa membuat manusia menjadi tidak saling memahami. Terkadang, sejujurnya terkadang, bahasa malah seperti membatasi komunikasi. Jika seperti itu, apakah kesalahan terletak pada pengucapan, penerimaan, atau pemaknaan?
Bahasa sungguh terbatas oleh kapasitas penggunaan kata-kata yang disediakan dalam vocabulary-nya. Contohnya dalam bahasa Inggris, bahasa Internasional yang harusnya dianggap paling luas sehingga diberi jabatan internasional tersebut. Jumlah vocabulary dalam bahasa Inggris paling hanya sejumlah ratusan ribu atau jutaan (sungguh sumpah saya tidak tahu jumlahnya). Itu baru bahasa Inggris, jangan-jangan bahasa lainnya yang lebih sederhana vocabulary-nya memiliki jumlah yang lebih sedikit dari itu dan tentu saja lebih membatasi pengungkapannya. Di lain pihak, manusia, yang katanya diciptakan sesuai citra penciptanya, memiliki kedalaman pikiran dan perasaan yang pastinya sering sulit untuk dijabarkan dengan sejumlah vocabulary terbatas tersebut. Sering sekali pastinya manusia menghadapi kejadian dimana pikirannya berkecamuk berbagai emosi sedangkan mulutnya terkunci karena tidak tahu kata-kata macam apa yang harus dikeluarkan untuk mengungkapkan perasaannya. Lalu kalau sudah begitu, apakah bahasa membantu?
Saya pernah mendengar pertanyaan dari seorang teman, ‘Bagaimana jika tidak ada bahasa di dunia?’ Pikiran pertama yang muncul adalah betapa sulitnya kalau tidak ada bahasa kan. Bagaimana cara manusia berkomunikasi kalau begitu. Akan tetapi setelah dipikirkan lebih lanjut, sepertinya saya terlalu terpaku pada kata ‘bahasa’ itu sendiri. Apakah betul sebuah bahasa hanyalah kumpulan kata-kata yang bisa dirangkai untuk menyampaikan maksudnya? Seperti helaian benang yang kalau disatukan bisa membentuk lembaran kain. Memang kalau seperti itu, jika pemahaman mengenai bahasa hanyalah kumpulan vocabulary, jika material mentahnya diambil, which is, in this case, the words, maka habislah sudah komunikasi manusia. Sama ketika kalau benangnya diambil, maka tidak akan terjadi lembaran kain.
Lalu bagaimana dengan pikiran dan perasaan yang susah dijabarkan tersebut, yang kadang-kadang bahkan berbagai bahasa saja tidak dapat menjabarkannya. Bagaimana dengan pemunculan ide abstrak dalam pikiran yang masih sangat mentah, yang sungguh sulit untuk dijelaskan. Kita sebagai pemilik ide, pikiran, dan perasaan tentu paham bagaimana maknanya bukan, hanya saja jika disuruh menjelaskan, mulut terasa terkunci. Apakah substansi abtrak tersebut bukanlah bentuk bahasa yang lain? Bahasa yang sebenarnya, bahasa yang bukan dalam pemaknaan berupa kumpulan kata saja.
Mungkin memang sebaiknya jangan membatasi pengertian bahasa sampai pada kumpulan vocabulary saja, sebab jika hanya mengandalkan kata-kata yang tersedia, tentu sulit sekali menjelaskan suatu konsep dalam benak kita supaya dimengerti oleh orang lain. Pikiran dan perasaan, jika diungkapkan saja sering menimbulkan kesalahpahaman. Sedangkan media pengungkapan bahasa jaman sekarang jumlahnya ribuan. Bisa melalui indra penglihatan, pendengaran, perasa, apapun. Sedangkan pemahaman melalui salah satu indra, yang berarti hanya sepotong informasi saja, bisa saja salah. Kalau sudah salah paham, dimana letak missing link yang menimbulkan perkara tersebut? Apakah penyampaiannya? Apakah penerimaannya? Apakah pemaknaannya? Memang luas sekali ya bahasa itu ternyata. Bisa digunakan untuk berkomunikasi, bisa menimbulkan miskomunikasi. Bisa dijadikan alat perdamaian, bisa dijadikan senjata. Pedang bermata dua yang sederhana tapi sejujurnya memiliki fungsi yang luar biasa besarnya.
Jadi, saran saya, jangan mengkotakkan bahasa, jangan mengkotakkan diri. Dunia begitu luas, ada ratusan juta kemungkinan yang tersedia. Belajarlah untuk mengolah informasi setelah mengumpulkan semua potongan keterangan sehingga bebas dari salah penggunaan yang merugikan. Bahasa selaku alat berkomunikasi yang bisa menimbulkan miskomunikasi juga hanyalah sebuah alat bantu semata. Menuankan bahasa bisa mencelakakan diri sendiri. Manfaatkan dia dengan bijak.
June 29, 2010
emansipasi, samakan hak tapi bedakan kewajiban
Emansipasi wanita, sebuah konsep dimana gender wanita mau berdiri disejajarkan dengan gender pria. Tentu dengan maksud untuk menyamakan hak dan kewajiban. Ide itu baik, tentu, karena semua manusia pada dasarnya sama dimata Tuhan. Apalagi ide ini keluar dari pemberontakan terhadap paradigma lama yang selalu menempatkan wanita dibawah pria sejak jaman dahulu kala.
Untuk hak, oke, mungkin itu bisa disamakan. Hak dalam mendapat pendidikan, hak untuk mendapat pekerjaan dan gaji yang setara, hak untuk menyatakan pendapatnya. Pada jaman modern seperti sekarang ini sudah tidak aneh lagi melihat wanita yang duduk diatas kursi dengan jabatan tinggi. Bahkan banyak negara di dunia yang dipimpin oleh seorang wanita. Dalam hal hak, lebih mudah untuk menyetarakan pria dan wanita.

Dalam hal kewajiban, mungkin akan lebih susah. Karena mari blak-blakan saja, susah menyetarakan kewajiban pria dan wanita. Contohnya dalam rumah tangga, bagaimana mungkin menyamakan ayah dan ibu. Sudah jelas adanya bahwa ayah bertugas sebagai kepala keluarga, menafkahi keluarganya dan melindungi keluarganya dalam kondisi apapun. Dan sudah jelas bahwa ibu bertugas sebagai penyambung dan penopang keluarga, mengayomi keluarganya dan memastikan lancarnya jalannya rumah tangga. Sama seperti kodrat bahwa tanpa wanita, pria tidak punya tempat untuk mengandung anaknya dan tanpa pria, wanita tidak mungkin bisa membuahi sel telurnya sendiri.
Sama seperti dalam dunia kerja, bagaimana menyamakan kewajiban wanita, sedangkan wanita selalu minta diberikan perlakuan khusus, seperti jatah cuti sehari setiap bulan hanya untuk menstruasi, jatah cuti tiga bulan untuk melahirkan. Belum lagi resiko kalau menikah, banyak wanita yang memutuskan untuk berhenti kerja dan mengikuti suami. Hal-hal seperti itu yang selalu meletakkan posisi wanita dibawah pria dalam dunia kerja. Wajar, tapi bukan berarti benar jika diterapkan dalam masa sekarang ini.
Buat saya, emansipasi itu baik, jika konteks pembicaraannya menyangkut kasus perendahan martabat wanita yang berlebihan di jaman dulu. Tapi kalau dalam jaman modern seperti sekarang ini, wanita memang sebaiknya diberi kesempatan untuk mendapatkan hak yang setara dalam pekerjaan, pendidikan, atau hak-hak asasi lainnya. Idealnya memang wanita tetap diberi kesempatan yang sama dengan pria, karena banyak juga wanita yang kecerdasannya setara dengan pria dan dedikasinya dalam pekerjaan juga setara dengan pria.

Asal jangan lalu muncul wanita-wanita yang lupa statusnya sendiri. Wanita, sudah kodratnya untuk memenuhi panggilan sebagai wanita, beberapa area yang tidak bisa dijajaki oleh pria. Jangan sampai saking asyiknya menyetarakan diri dengan kaum pria lalu melupakan kodrat utamanya sebagai wanita. Dan juga wanita jangan lupa untuk tidak sampai melangkahi garis batas pria, mengambil apa yang sudah menjadi hak dan kewajiban pria. Intinya seimbang sajalah.
Emansipasi itu baik, akan tetapi kalau boleh jujur, sebagai seorang wanita, saya tetap menyukai kondisi dimana wanita adalah suatu ciptaan yang perlu dilindungi oleh pria. Boleh diberi hak bangkit sendiri, tetapi alangkah baiknya jika ada seorang pria yang berdiri disamping saya dan mengulurkan tangan untuk membantu berdiri. Boleh membawa mobil sendiri, tetapi alangkah baiknya kalau ada pria yang duduk dibagian penyetir. Boleh duduk di kursi penumpang, tetapi alangkah baiknya kalau ada pria yang bersedia membukakan pintu ketika turun. Boleh membawa barang sendiri akan tetapi senang sekali kalau ada pria yang bersedia membantu membawakan.
Bagi saya, boleh menjadi seorang wanita kuat yang independent, tetapi ternyata tetap menyenangkan ketika ada seorang pria yang dengan posesifnya menganggap saya properti miliknya. My girl, panggilan yang tentu akan ditepis jauh-jauh oleh kaum feminis sedunia, karena panggilan tersebut adalah panggilan yang menempatkan saya sebagai wanita dengan posisi sebagai sebuah properti milik seorang pria. My girl, panggilan yang menempatkan saya dibawah seorang pria yang seharusnya berdiri sejajar dengan saya. My girl, panggilan yang saya terima dengan senang hati dan jelas membuat saya tersenyum sepanjang hari dan hari berikutnya dan hari berikutnya lagi. My girl, panggilan yang hanya seorang pria saya ijinkan untuk memanggil saya demikian.
Jadi, kalau buat saya, emansipasi itu baik. Emansipasi itu seperti semburan angin dingin buat wanita yang ingin lepas dari jajahan paradigma kolot. Tapi tetap saja, ada area-area tertentu yang memang sudah merupakan kodratnya pria dan ada area-area tertentu yang sudah merupakan kodrat wanita.
Intinya, emansipasi, samakan hak tapi bedakan kewajiban.
Untuk hak, oke, mungkin itu bisa disamakan. Hak dalam mendapat pendidikan, hak untuk mendapat pekerjaan dan gaji yang setara, hak untuk menyatakan pendapatnya. Pada jaman modern seperti sekarang ini sudah tidak aneh lagi melihat wanita yang duduk diatas kursi dengan jabatan tinggi. Bahkan banyak negara di dunia yang dipimpin oleh seorang wanita. Dalam hal hak, lebih mudah untuk menyetarakan pria dan wanita.

Dalam hal kewajiban, mungkin akan lebih susah. Karena mari blak-blakan saja, susah menyetarakan kewajiban pria dan wanita. Contohnya dalam rumah tangga, bagaimana mungkin menyamakan ayah dan ibu. Sudah jelas adanya bahwa ayah bertugas sebagai kepala keluarga, menafkahi keluarganya dan melindungi keluarganya dalam kondisi apapun. Dan sudah jelas bahwa ibu bertugas sebagai penyambung dan penopang keluarga, mengayomi keluarganya dan memastikan lancarnya jalannya rumah tangga. Sama seperti kodrat bahwa tanpa wanita, pria tidak punya tempat untuk mengandung anaknya dan tanpa pria, wanita tidak mungkin bisa membuahi sel telurnya sendiri.
Sama seperti dalam dunia kerja, bagaimana menyamakan kewajiban wanita, sedangkan wanita selalu minta diberikan perlakuan khusus, seperti jatah cuti sehari setiap bulan hanya untuk menstruasi, jatah cuti tiga bulan untuk melahirkan. Belum lagi resiko kalau menikah, banyak wanita yang memutuskan untuk berhenti kerja dan mengikuti suami. Hal-hal seperti itu yang selalu meletakkan posisi wanita dibawah pria dalam dunia kerja. Wajar, tapi bukan berarti benar jika diterapkan dalam masa sekarang ini.
Buat saya, emansipasi itu baik, jika konteks pembicaraannya menyangkut kasus perendahan martabat wanita yang berlebihan di jaman dulu. Tapi kalau dalam jaman modern seperti sekarang ini, wanita memang sebaiknya diberi kesempatan untuk mendapatkan hak yang setara dalam pekerjaan, pendidikan, atau hak-hak asasi lainnya. Idealnya memang wanita tetap diberi kesempatan yang sama dengan pria, karena banyak juga wanita yang kecerdasannya setara dengan pria dan dedikasinya dalam pekerjaan juga setara dengan pria.

Asal jangan lalu muncul wanita-wanita yang lupa statusnya sendiri. Wanita, sudah kodratnya untuk memenuhi panggilan sebagai wanita, beberapa area yang tidak bisa dijajaki oleh pria. Jangan sampai saking asyiknya menyetarakan diri dengan kaum pria lalu melupakan kodrat utamanya sebagai wanita. Dan juga wanita jangan lupa untuk tidak sampai melangkahi garis batas pria, mengambil apa yang sudah menjadi hak dan kewajiban pria. Intinya seimbang sajalah.
Emansipasi itu baik, akan tetapi kalau boleh jujur, sebagai seorang wanita, saya tetap menyukai kondisi dimana wanita adalah suatu ciptaan yang perlu dilindungi oleh pria. Boleh diberi hak bangkit sendiri, tetapi alangkah baiknya jika ada seorang pria yang berdiri disamping saya dan mengulurkan tangan untuk membantu berdiri. Boleh membawa mobil sendiri, tetapi alangkah baiknya kalau ada pria yang duduk dibagian penyetir. Boleh duduk di kursi penumpang, tetapi alangkah baiknya kalau ada pria yang bersedia membukakan pintu ketika turun. Boleh membawa barang sendiri akan tetapi senang sekali kalau ada pria yang bersedia membantu membawakan.
Bagi saya, boleh menjadi seorang wanita kuat yang independent, tetapi ternyata tetap menyenangkan ketika ada seorang pria yang dengan posesifnya menganggap saya properti miliknya. My girl, panggilan yang tentu akan ditepis jauh-jauh oleh kaum feminis sedunia, karena panggilan tersebut adalah panggilan yang menempatkan saya sebagai wanita dengan posisi sebagai sebuah properti milik seorang pria. My girl, panggilan yang menempatkan saya dibawah seorang pria yang seharusnya berdiri sejajar dengan saya. My girl, panggilan yang saya terima dengan senang hati dan jelas membuat saya tersenyum sepanjang hari dan hari berikutnya dan hari berikutnya lagi. My girl, panggilan yang hanya seorang pria saya ijinkan untuk memanggil saya demikian.
Jadi, kalau buat saya, emansipasi itu baik. Emansipasi itu seperti semburan angin dingin buat wanita yang ingin lepas dari jajahan paradigma kolot. Tapi tetap saja, ada area-area tertentu yang memang sudah merupakan kodratnya pria dan ada area-area tertentu yang sudah merupakan kodrat wanita.
Intinya, emansipasi, samakan hak tapi bedakan kewajiban.
June 11, 2010
epigraph
Human bodies are the greatest evidence, the living epigraph, of its own lives. Every wrinkle, every wound, every scratch, every smile, every tear, every spark in their eyes, every spirit in theirs voice, every this and that are the real prove, the true identity, the real each of you. Do we realize that our own body is telling stories about our past?

Look beyond the wrinkles in our grandmother’s face. Or scar in our father’s leg. Look beyond tears in our mother’s eyes. Or look beyond sparks in our beloved one when he talked about his life.
Try to look beyond the surface and see what’s inside, because maybe what’s hidden is the real person. Don’t let the appearance lie to you. Look closer. Hear each story from very evidence of life.
Because our body is the greatest epigraph of our own life.

Look beyond the wrinkles in our grandmother’s face. Or scar in our father’s leg. Look beyond tears in our mother’s eyes. Or look beyond sparks in our beloved one when he talked about his life.
Try to look beyond the surface and see what’s inside, because maybe what’s hidden is the real person. Don’t let the appearance lie to you. Look closer. Hear each story from very evidence of life.
Because our body is the greatest epigraph of our own life.
April 28, 2010
dari Roh-Jiwa-Raga yang penuh tanya
Paling terasa menyenangkan ketika terbaring terlentang di bawah langit luas, polos, sendiri, dalam pikiran masing-masing. Terasa menggairahkan untuk menikmati semburat merah matahari yang muncul menyapa di pagi hari. Terasa bersemangat untuk menghisap energi birunya langit yang ceria di siang hari. Terasa romantis mengecup hangatnya matahari yang berpamitan di senja hari. Terasa menenangkan beristirahat dibawah gelapnya langit malam bersama bulan dan bintang yang berpesta dan bercengkrama dengan asyiknya.
Saat seperti itulah kesadaran yang selalu ada tapi jarang disadari muncul. Kecil. Manusia itu kecil. Kita hanyalah debu tak berarti, sungguh, percayalah. Karena itulah kita diberi akal budi, supaya kita bisa berkarya, berkreasi, mengeluarkan ide dan pikiran, supaya debu tak berarti memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak yang juga tak berarti di dunia ini.
Sungguh mengecilkan sekaligus membesarkan diri jika berada dibawah langit luas, polos, sendiri, dalam pikiran masing-masing. Tuhan betul adalah seniman. Paling tidak, dia adalah desainer. Dia membuat blue-print yang entah dibangun dalam jangka waktu ribuan, ratusan ribu, jutaan, atau bahkan milyaran tahun, kita tidak akan pernah tahu sejauh mana umur permainan bumi ini. Tidak ada manusia yang hidup selama itu bukan pastinya? Dia membuat maket dalam wujud angkasa, bumi, dan kita. Dia membuat gambar presentasi dalam bentuk permainan skema warna dari semua warna yang ada di dunia, cukup tebarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat warna tersebut. Yang tidak kita ketahui adalah, entah kepada siapa dia akan mempresentasikan rancangannya ini.
Ya, dunia untuk Tuhan sang desainer adalah kanvas luar biasa. Kita hanya titik berukuran mikro yang tidak akan berarti jika tidak digabung dengan titik lainnya. Jadi walaupun tidak berarti, dalam pandangan optimisme, sebenarnya kita berarti juga. Karena itulah setiap manusia memiliki keunikan masing-masing walau tetap saja pasti memiliki persamaan satu dan dua di area tertentu. Di kanvas yang luas ini, kita tinggal memilih untuk menjadi titik seperti apa atau warna seperti apa sesuai dengan jalan hidup kita. Bukankah hidup adalah pilihan? Semua pilihan yang kita ambil akan memberikan makna yang berbeda nantinya.
Benarkah demikian? Benarkah hidup kita bermakna walau kecil? Kalau dipikir-pikir, apa rencananya kita manusia hidup di dunia? Apa tujuannya sejarah beribu-ribu tahun lamanya yang seperti spiral terus mengulang inti kejadian, hanya membedakan sarana dan prasarana saja. Apa tujuannya pergantian era dari dulu sampai sekarang? Apa pentingnya evolusi? Sebenarnya apa master-plan yang Tuhan buat untuk dunia ini?
Seberapa pun besarnya pertanyaan kita, sepertinya sampai kapan pun manusia tidak akan diberi kesempatan untuk melihat blue-print tersebut. Kita hanya bisa bertanya-tanya, mengulang jaringan pemikiran penting-penting-tidak-penting ini dalam benak kita sendiri. Kita hanya bisa mengulang pertanyaan retorikal ini sambil menghabiskan energi kita dan tetap saja tak akan menemukan jawabannya. Kenapa kita bisa berpikir jika tidak akan menemukan jawabannya?
Sebenarnya apa makna kita di dunia? Kenapa kita diberi pikiran dan akal budi? Apa tujuannya untuk memberikan warna dalam kanvas tersebut? Lalu bagaimanakah dengan anak-anak yang meninggal sebelum dilahirkan? Atau anak-anak yang meninggal dalam usia sangat belia? Bukankah mereka belum sempat memberikan jejak di dunia? Bagaimanakah pengertian pemberian makna dalam kehidupan itu? Apakah perasaan sudah bisa disebut jejak? Ataukah perlu perbuatan nyata yang terlihat oleh mata baru bisa disebut jejak? Bukankah tidak terlihat bukan berarti tidak ada? Tetapi betulkah ada itu menjadi penting?
Sungguh manusia sangat kecil dan tidak berarti. Kenapa perlu kita meninggalkan jejak di dunia? Siapa yang akan melihat jejak itu nantinya? Siapa yang akan mengagumi jejak itu? Apa pentingnya meninggalkan jejak di muka bumi? Toh kelak akan ada orang lain yang akan menimpa jejak kita itu dengan miliknya lagi dan lagi. Betulkah perlu kita mengeluarkan pemikiran kita itu? Siapa yang akan menikmatinya? Apakah kita sendiri demi keegoisan dan arogansi semata ataukah untuk kepentingan orang lain. Jika untuk orang lain kenapa juga harus ada yang peduli? Kenapa kita harus peduli dengan apa yang diperbuat oleh orang lain? Bukankah manusia itu lahir sendiri dan mati sendiri?
Tetapi jika tidak dikeluarkan, kenapa kita diberi pikiran dan akal budi yang meledak-ledak, yang penuh dengan rupa dan wujud, yang penuh warna dan rasa, yang harus dikeluarkan supaya bisa memberikan suatu produk nyata yang bisa dinikmati dan dihujat oleh kita lainnya. Sungguh aneh dunia itu. Mungkin karena kita hanya setitik debu maka kita tidak akan bisa mengerti tujuannya sampai kapanpun juga. Sungguh hidup itu aneh.
Apa perlunya kita manusia memiliki perasaan sedih, gembira, marah, kecewa, semangat? Apa pentingnya emosi tenang dan menyembur dari diri kita? Apa pentingnya perasaan hangat akibat persinggungan dengan manusia lain? Apa intinya kita mencintai kalau hidup manusia tidak berarti? Apa perlunya berbuat baik atau jahat jika apapun yang kita lakukan seperti tidak meninggalkan apapun di muka bumi? Apa perlunya dikenang oleh manusia yang kelak akan mati juga?
Apa pentingnya berbuat baik dan jahat yang jika ditimbang saja manusia takarannya kecil sekali? Apa pentingnya memiliki cita-cita dan mimpi? Apa pentingnya berusaha sekuat tenaga? Apa tujuannya kita tertawa dan menangis? Apa perlunya kita memaki dan menghibur? Apa tujuannya kita beranak pinak dan memenuhi bumi? Apa pentingnya merasa itu? Kenapa tak hilangkan saja perasaan yang ada seperti layaknya patung-patung indah tanpa hati?
Apa tujuannya kita hidup 80 tahun yang cukup lama untuk kita tapi cukup sekejap bagi Tuhan, sang master-planner kita? Apa tujuannya jika bukan untuk meninggalkan jejak? Tetapi kemudian kenapa jejak itu penting? Toh kelak akan hilang juga.
Apakah sebenarnya eksistensi manusia itu? Apakah manusia itu bermakna? Apakah kehidupan yang kita kecap saat ini adalah nyata? Lalu kemana kita pergi ketika roh kita sudah terbang dan jiwa kita hilang dan raga kita menjadi debu dan tanah dan air yang lalu terbang hanyut dan lenyap begitu saja tanpa bisa dikenali lagi? Apakah artinya semua titik kehidupan bila diletakkan di dunia yang sangat luas ini? Apa yang dipikirkan oleh Tuhan ketika memandang bumi ciptaan mahakaryanya ini? Apa yang Tuhan rencanakan ketika melihat titik-titik debu kehidupan manusia fana ini?
Tetapi kalau dipikir-pikir, pentingkah kita menanyakan hal itu? Pentingkah tahu tujuan manusia di dunia? Pentingkah melihat rencana besar rancangan mahakarya Tuhan? Pentingkah semua itu?
Kenapa tidak kita nikmati saja? Kita, manusia, kecil dan tak berarti bagaikan bulir debu di alunan melodi waktu yang mengalir dalam sungai sejarah kehidupan. Kenapa harus peduli apakah keberadaan kita penting? Apakah tidak cukup untuk menganggap diri kita penting? Kenapa tidak menikmati keegoisan dan arogansi yang memang hanya diijinkan untuk dimiliki manusia saja?
Kenapa mempertanyakan Tuhan? Memang kenapa kalau kita hanya sebuah titik mikro dari entah berapa hitungan tak terhingga titik-titik yang membentuk sebuah lukisan mahakarya? Bukankah sudah cukup kalau kita bisa bangun bernafas dan menjalankan kehidupan ini? Bukankah sudah cukup kita bermimpi dan mengejar mimpi tersebut? Bukankah sudah cukup dengan memberikan senyuman sejuk kepada orang lain setiap hari? Bukankah sudah cukup memiliki seseorang untuk bergandengan tangan dan menjalani hidup bersama sampai ajal memisahkan? Bukankah sudah cukup kita ada bersama disini sekarang menikmati waktu yang tersedia saat ini? Kenapa tidak puas hanya dengan ada itu saja?
Kenapa manusia tidak pernah puas? Kenapa manusia tidak bahagia dengan keberadaan? Kenapa manusia tidak pernah berkata cukup? Kenapa selalu ingin mengetahui hal-hal yang tidak perlu diketahui? Kenapa tidak pernah puas?
Kenapa mencobai Tuhan dengan bertanya? Kenapa tidak terima saja bulat-bulat?
Kenapa mempertanyakan Tuhan?
Kenapa?
Saat seperti itulah kesadaran yang selalu ada tapi jarang disadari muncul. Kecil. Manusia itu kecil. Kita hanyalah debu tak berarti, sungguh, percayalah. Karena itulah kita diberi akal budi, supaya kita bisa berkarya, berkreasi, mengeluarkan ide dan pikiran, supaya debu tak berarti memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak yang juga tak berarti di dunia ini.
Sungguh mengecilkan sekaligus membesarkan diri jika berada dibawah langit luas, polos, sendiri, dalam pikiran masing-masing. Tuhan betul adalah seniman. Paling tidak, dia adalah desainer. Dia membuat blue-print yang entah dibangun dalam jangka waktu ribuan, ratusan ribu, jutaan, atau bahkan milyaran tahun, kita tidak akan pernah tahu sejauh mana umur permainan bumi ini. Tidak ada manusia yang hidup selama itu bukan pastinya? Dia membuat maket dalam wujud angkasa, bumi, dan kita. Dia membuat gambar presentasi dalam bentuk permainan skema warna dari semua warna yang ada di dunia, cukup tebarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat warna tersebut. Yang tidak kita ketahui adalah, entah kepada siapa dia akan mempresentasikan rancangannya ini.
Ya, dunia untuk Tuhan sang desainer adalah kanvas luar biasa. Kita hanya titik berukuran mikro yang tidak akan berarti jika tidak digabung dengan titik lainnya. Jadi walaupun tidak berarti, dalam pandangan optimisme, sebenarnya kita berarti juga. Karena itulah setiap manusia memiliki keunikan masing-masing walau tetap saja pasti memiliki persamaan satu dan dua di area tertentu. Di kanvas yang luas ini, kita tinggal memilih untuk menjadi titik seperti apa atau warna seperti apa sesuai dengan jalan hidup kita. Bukankah hidup adalah pilihan? Semua pilihan yang kita ambil akan memberikan makna yang berbeda nantinya.
Benarkah demikian? Benarkah hidup kita bermakna walau kecil? Kalau dipikir-pikir, apa rencananya kita manusia hidup di dunia? Apa tujuannya sejarah beribu-ribu tahun lamanya yang seperti spiral terus mengulang inti kejadian, hanya membedakan sarana dan prasarana saja. Apa tujuannya pergantian era dari dulu sampai sekarang? Apa pentingnya evolusi? Sebenarnya apa master-plan yang Tuhan buat untuk dunia ini?
Seberapa pun besarnya pertanyaan kita, sepertinya sampai kapan pun manusia tidak akan diberi kesempatan untuk melihat blue-print tersebut. Kita hanya bisa bertanya-tanya, mengulang jaringan pemikiran penting-penting-tidak-penting ini dalam benak kita sendiri. Kita hanya bisa mengulang pertanyaan retorikal ini sambil menghabiskan energi kita dan tetap saja tak akan menemukan jawabannya. Kenapa kita bisa berpikir jika tidak akan menemukan jawabannya?
Sebenarnya apa makna kita di dunia? Kenapa kita diberi pikiran dan akal budi? Apa tujuannya untuk memberikan warna dalam kanvas tersebut? Lalu bagaimanakah dengan anak-anak yang meninggal sebelum dilahirkan? Atau anak-anak yang meninggal dalam usia sangat belia? Bukankah mereka belum sempat memberikan jejak di dunia? Bagaimanakah pengertian pemberian makna dalam kehidupan itu? Apakah perasaan sudah bisa disebut jejak? Ataukah perlu perbuatan nyata yang terlihat oleh mata baru bisa disebut jejak? Bukankah tidak terlihat bukan berarti tidak ada? Tetapi betulkah ada itu menjadi penting?
Sungguh manusia sangat kecil dan tidak berarti. Kenapa perlu kita meninggalkan jejak di dunia? Siapa yang akan melihat jejak itu nantinya? Siapa yang akan mengagumi jejak itu? Apa pentingnya meninggalkan jejak di muka bumi? Toh kelak akan ada orang lain yang akan menimpa jejak kita itu dengan miliknya lagi dan lagi. Betulkah perlu kita mengeluarkan pemikiran kita itu? Siapa yang akan menikmatinya? Apakah kita sendiri demi keegoisan dan arogansi semata ataukah untuk kepentingan orang lain. Jika untuk orang lain kenapa juga harus ada yang peduli? Kenapa kita harus peduli dengan apa yang diperbuat oleh orang lain? Bukankah manusia itu lahir sendiri dan mati sendiri?
Tetapi jika tidak dikeluarkan, kenapa kita diberi pikiran dan akal budi yang meledak-ledak, yang penuh dengan rupa dan wujud, yang penuh warna dan rasa, yang harus dikeluarkan supaya bisa memberikan suatu produk nyata yang bisa dinikmati dan dihujat oleh kita lainnya. Sungguh aneh dunia itu. Mungkin karena kita hanya setitik debu maka kita tidak akan bisa mengerti tujuannya sampai kapanpun juga. Sungguh hidup itu aneh.
Apa perlunya kita manusia memiliki perasaan sedih, gembira, marah, kecewa, semangat? Apa pentingnya emosi tenang dan menyembur dari diri kita? Apa pentingnya perasaan hangat akibat persinggungan dengan manusia lain? Apa intinya kita mencintai kalau hidup manusia tidak berarti? Apa perlunya berbuat baik atau jahat jika apapun yang kita lakukan seperti tidak meninggalkan apapun di muka bumi? Apa perlunya dikenang oleh manusia yang kelak akan mati juga?
Apa pentingnya berbuat baik dan jahat yang jika ditimbang saja manusia takarannya kecil sekali? Apa pentingnya memiliki cita-cita dan mimpi? Apa pentingnya berusaha sekuat tenaga? Apa tujuannya kita tertawa dan menangis? Apa perlunya kita memaki dan menghibur? Apa tujuannya kita beranak pinak dan memenuhi bumi? Apa pentingnya merasa itu? Kenapa tak hilangkan saja perasaan yang ada seperti layaknya patung-patung indah tanpa hati?
Apa tujuannya kita hidup 80 tahun yang cukup lama untuk kita tapi cukup sekejap bagi Tuhan, sang master-planner kita? Apa tujuannya jika bukan untuk meninggalkan jejak? Tetapi kemudian kenapa jejak itu penting? Toh kelak akan hilang juga.
Apakah sebenarnya eksistensi manusia itu? Apakah manusia itu bermakna? Apakah kehidupan yang kita kecap saat ini adalah nyata? Lalu kemana kita pergi ketika roh kita sudah terbang dan jiwa kita hilang dan raga kita menjadi debu dan tanah dan air yang lalu terbang hanyut dan lenyap begitu saja tanpa bisa dikenali lagi? Apakah artinya semua titik kehidupan bila diletakkan di dunia yang sangat luas ini? Apa yang dipikirkan oleh Tuhan ketika memandang bumi ciptaan mahakaryanya ini? Apa yang Tuhan rencanakan ketika melihat titik-titik debu kehidupan manusia fana ini?
Tetapi kalau dipikir-pikir, pentingkah kita menanyakan hal itu? Pentingkah tahu tujuan manusia di dunia? Pentingkah melihat rencana besar rancangan mahakarya Tuhan? Pentingkah semua itu?
Kenapa tidak kita nikmati saja? Kita, manusia, kecil dan tak berarti bagaikan bulir debu di alunan melodi waktu yang mengalir dalam sungai sejarah kehidupan. Kenapa harus peduli apakah keberadaan kita penting? Apakah tidak cukup untuk menganggap diri kita penting? Kenapa tidak menikmati keegoisan dan arogansi yang memang hanya diijinkan untuk dimiliki manusia saja?
Kenapa mempertanyakan Tuhan? Memang kenapa kalau kita hanya sebuah titik mikro dari entah berapa hitungan tak terhingga titik-titik yang membentuk sebuah lukisan mahakarya? Bukankah sudah cukup kalau kita bisa bangun bernafas dan menjalankan kehidupan ini? Bukankah sudah cukup kita bermimpi dan mengejar mimpi tersebut? Bukankah sudah cukup dengan memberikan senyuman sejuk kepada orang lain setiap hari? Bukankah sudah cukup memiliki seseorang untuk bergandengan tangan dan menjalani hidup bersama sampai ajal memisahkan? Bukankah sudah cukup kita ada bersama disini sekarang menikmati waktu yang tersedia saat ini? Kenapa tidak puas hanya dengan ada itu saja?
Kenapa manusia tidak pernah puas? Kenapa manusia tidak bahagia dengan keberadaan? Kenapa manusia tidak pernah berkata cukup? Kenapa selalu ingin mengetahui hal-hal yang tidak perlu diketahui? Kenapa tidak pernah puas?
Kenapa mencobai Tuhan dengan bertanya? Kenapa tidak terima saja bulat-bulat?
Kenapa mempertanyakan Tuhan?
Kenapa?
Subscribe to:
Posts (Atom)